Menkum dan HAM Amir Syamsudin

Jakarta - Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin menilai hukuman mati yang dijatuhkan Kejaksaan terhadap terpidana narkoba asal Nigeria Adam Wilson merupakan ketegasan terhadap pemberantasan penyalahgunaan narkotika di Indonesia. Adam merupakan tarpidana kasus narkoba yang telah ditangkap pada 2003 silam, dan sempat mendekam di beberapa penjara berbeda di Indonesia selama 10 tahun.

Hal tersebut disampaikan Amir menyusul protes sejumlah aktivis, seperti Haris Azhar dari KontraS, dan pengacara Todung Mulya Lubis terhadap hukuman mati kepada Adam Wilson. Menurut mereka, hukuman mati tersebut merupakan langkah mundur dalam hukum Indonesia.

Menurutnya Amir, hukuman mati terhadap Adam patut untuk dilakukan menyusul semakin derasnya narkoba masuk ke Indonesia. "Kita tahu betapa derasnya narkotika masuk ke Indonesia akhir-akhir ini. Sehingga saya menduga bahwa Kejaksaan merespon," kata Amir di komplek Istana Negara, Jakarta, Selasa (19/3).

Pada kesempatan itu, Amir mengatakan bahwa protes yang dilakukan oleh para aktivis merupakan hal yang wajar. "Hukuman mati meman kerap menuai protes. Tapi sebagian besar masyrakat kita merasakan perlu adanya sikap tegas dalam menghadapi situasi seperti ini," ujarnya.

Sementara itu, soal nasib terpidana mati lainnya, Amir memilih tak mengomentari lebih banyak. "Saya kira lebih bagus jaksa agung yang jawab," kata dia lagi.

Menurut konferensi pers yang dilakukan sejumlah aktivis HAM tersebut setidaknya Kejaksaan Agung mempertimbangkan melakukan eksekusi mati terhadap sembilan terpidana narkotika lainnya.

Penulis: Ezra Sihite