Ilustrasi kehidupan masyarakat Bone Bolango, Gorontalo.

Gorontalo - Perbaikan rumah tidak layak huni di Indonesia diyakini mampu membantu mengentaskan kemiskinan, mengurangi terjangkitnya penyakit dan kematian ibu dan anak, yang menjadi bagian dari tujuan pembangunan milenium atau Millenium Development Goals (MDGs). Hal itu dikatakan Menteri Sosial (Mensos) Salim Segaf Al Jufri di sela program Bedah Kampung di Desa Monano, Kecamatan Bone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, Selasa (19/3).

Dalam kesempatan itu, Mensos mengatakan bahwa Kementerian Sosial (Kemsos) tentu akan terus memberi kontribusi, agar pencapaian MDGs yang akan berakhir tahun 2015 tercapai. Ia pun mengaku optimistis program yang dilakukan selama ini mampu memenuhi target MDGs tersebut.

Seperti diketahui, MDGs yang akan berakhir tahun 2015 memiliki delapan sasaran. Masing-masing yakni pengentasan kemiskinan dan kelaparan ekstrem; pemerataan pendidikan dasar; mendukung adanya persamaan gender dan pemberdayaan perempuan; mengurangi tingkat kematian anak; meningkatkan kesehatan ibu; perlawanan terhadap HIV/AIDS, malaria dan penyakit lain; menjamin daya dukung lingkungan hidup; serta mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan.

"Di Indonesia memang masih banyak rumah tidak layak huni. Sarana lingkungan pun masih banyak yang belum memadai dan perlu perhatian serius. Bahkan di kota-kota, harus ada upaya mengubah perilaku hidup bersih, sehat dan rapi," kata Salim Segaf di sela-sela acara itu.

Salim mengatakan, Kemsos menargetkan perbaikan rumah tidak layak huni tahun 2013 mencapai sejumlah 100.000 rumah. Hanya saja, Kemsos sendiri menurutnya hanya mampu memperbaiki 20.000 rumah saja, sementara untuk 80.000 rumah tak layak huni lainnya diharapkan adanya keterlibatan pemerintah daerah dan swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan.

"Perbaikan rumah tidak layak huni itu membangun semangat kesetiakawanan sosial, gotong royong dan kebersamaan. Banyak dunia usaha tertarik ikut program Bedah Kampung ini," ucapnya pula.

Mensos pun berharap program Bedah Kampung ini memberi harapan kepada keluarga miskin. Sebab menurutnya, inti dari kesetiakawanan sosial adalah sikap peduli dan berbagi untuk membantu yang lemah.

Dalam program Bedah Kampung di Desa Monano, Kemsos memberikan bantuan sebesar Rp1,5 miliar untuk perbaikan 150 unit rumah tidak layak huni, juga bantuan Kelompok Usaha Bersama kepada 15 kelompok sebesar Rp300 juta, serta bantuan tiga unit sarana lingkungan senilai Rp150 juta.

Salim menambahkan, dalam upaya pencapaian MDGs pula, salah satu program Kemsos yang terkait adalah Program Keluarga Harapan (PKH) yang tahun 2013 menyentuh 2,4 juta rumah tangga sangat miskin. Dalam program ini dipastikan bantuan untuk ibu hamil, sehingga dapat mengurangi kematian ibu dan anak, juga diberikan bantuan pendidikan dan kesehatan yang semuanya dimonitor.

Kerja Sama dengan Kempera
Seperti diberitakan sebelumnya, Kemsos dan Kementerian Perumahan Rakyat (Kempera) telah memastikan melakukan kerja sama perbaikan rumah tidak layak huni mulai tahun ini. Ditargetkan, sebanyak 387.000 rumah tidak layak huni dari peserta PKH akan dibedah.

Kemsos sendiri mencatat, sejak PKH dimulai tahun 2007, terdapat 387.000 rumah tangga sangat miskin (RTSM) yang rumahnya masih tidak layak huni. Bahkan memasuki tahun 2013, terdapat 2,4 juta RTMS dalam PKH, di mana diperkirakan dua pertiga atau sekitar 1,5 juta RTSM masih menempati rumah tidak layak huni.

Di sisi lain, Kempera sendiri memiliki program setiap tahunnya untuk memperbaiki 250.000 rumah tidak layak huni, dengan dana Rp7,5 juta per rumah. Hingga tahun 2014, Kempera menargetkan sebanyak 1 juta rumah tidak layak huni akan dapat diperbaiki.

Terkait Bedah Kampung di Desa Monano, Salim menyatakan bahwa desa tersebut berada di wilayah yang angka kemiskinannya berada di atas rata-rata nasional yakni 17,22 persen, sehingga menjadi prioritas. Terkait hal itu, ia pun meminta keterlibatan daerah untuk menangani kemiskinan tersebut secara komprehensif.

Menanggapinya, Wakil Gubernur Gorontalo, Idris Rahim mengakui, angka kemiskinan di wilayahnya yang mencapai 17,22 persen tersebut, memerlukan penanganan dan perhatian yang kontinyu dari semua pemangku kepentingan (stakeholder).

"Provinsi ini mendapat anggaran dekonsentrasi sebesar Rp15,7 miliar, tugas perbantuan Rp5,6 miliar. Kami berharap adanya bantuan dan kerja sama agar program-program kami terus berjalan," ucap Idris.

Salah seorang warga yang rumahnya dibedah, Imran (30), mengaku senang karena rumahnya yang berdinding bambu itu akan dipugar. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai buruh pembuatan batako itu berharap, bantuan ini bisa menggiringnya keluar dari kemiskinan.

Saat Mensos mengunjungi rumahnya yang berukuran sekitar 4X3 meter itu, terlihat hanya ada satu ruang tengah, serta satu kamar dan dapur yang beralaskan papan. Mensos pun sempat memberikan nama kepada bayi Imran yang sudah dua bulan belum diberikan nama dan sehari-hari hanya dipanggil Nunu, sebutan kesayangan bagi anak kecil di daerah itu.

Anak kedua pasangan Imran dan Djumiati itu pun akhirnya diberi nama Mohammad Fatih. Mensos yang sempat menggendong bayi tersebut mengungkapkan, anak tersebut sehari-harinya akan dipanggil Fatih, yang artinya "pembuka".

"Apalagi keluarga ini akan pindah dari rumah tidak layak huni. Pembuka ini (bisa berarti) awal untuk kebutuhan yang lebih baik ke depannya," ujarnya.

Suara Pembaruan

Penulis: R-15

Sumber:Suara Pembaruan