Gedung KPK Jakarta.

Jakarta - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Zulkarnain membantah tudingan bahwa lembaga antikorupsi di bawah pimpinannya tengah membidik partai politik (parpol) tertentu menyusul penggeledahan ruang kerja Ketua Fraksi Golkar di DPR Setya Novanto sekaligus Bendaraha DPP partai berlambang pohon beringin tersebut.

Zulkarnain menjelaskan, penggeledahan dimaksudkan untuk menemukan barang bukti. Penggeledahan juga belum tentu mengindikasikan ada keterlibatan orang yang tempatnya digeledah.

"Tidak ada istilah bidik dalam hukum. Istilah hukum itu mengumpulkan bukti dan keterangan," kata Zulkarnain ketika dihubungi, Kamis (21/3) pagi.

Menurut Zulkarnain, penggeledahan bisa dilakukan di mana pun, tidak harus di tempat tersangka kasus korupsi. Penggeledahan dilakukan di tempat yang diperkirakan bisa ditemukan barang bukti untuk memperkuat penyidikan kasus tertentu.

Lebih lanjut mantan Koordinator Staf Ahli Kejaksaan Agung ini mengatakan, KPK masih fokus penyidikan kasus dugaan suap terkait perubahan Perda tentang penambahan anggaran pembangunan venue menembak untuk pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) di Pekanbaru, Riau dengan tersangka, Rusli Zainal.

Tetapi, lanjut Zulkarnain, jika dalam penggeledahan ditemukan bukti-bukti lain maka akan diiventarisir oleh KPK.

Seperti diketahui, tim KPK menggeledah ruang kerja dua politisi Partai Golkar, yaitu Setya Novanto dan Kahar Muzakir terkait kasus dugaan suap pelaksanaan PON Riau, pada Selasa (19/3) kemarin. KPK juga menggeledah PT Findo Muda terkait penyidikan kasus yang sama.

Kemudian, dari tiga lokasi yang digeledah tersebut, KPK berhasil menyita tiga buah kardus berisi dokumen yang diduga berkaitan dengan tersangka dalam perkara ini, Rusli Zainal.

Suara Pembaruan

Penulis: N-8/WBP

Sumber:Suara Pembaruan