Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Yogyakarta - Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, meminta mahasiswa dari luar daerah benar-benar memenuhi janji yang sudah diucapkan pada Minggu (6/1) lalu, saat menghadiri dialog dengan mahasiswa Indonesia bagian Timur di Tambak Bayan, Sleman.

“Waktu itu, bersamaan dengan Natalan yang digelar Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB), mereka berjanji bahwa siapa saya yang bikin kerusuhan di Yogya harus pulang. Itu, mereka sendiri yang janji. Sekarang saya akan tagih janji itu,” tegas Sultan saat akan menghadiri acara dialog forum pemerintah daerah, tokoh masyarakat dan ulama di Sleman, Rabu (26/3).

Sultan menegaskan, tetap akan melindungi seluruh mahasiswa luar daerah yang sedang menimba ilmu di Yogyakarta. Namun ia meminta mereka tetap komit kepada janji yang sudah diwacanakan sendiri.

“Ini tidak hanya berlaku kepada mahasiwa NTT, tetapi juga semuanya, ya Papua, Ambon, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, semua, tidak terkecuali. Saya sedih, kenapa Yogya jadi seperti ini,” ucapnya dengan nada lemah.

Sultan juga menjelaskan, agenda forum dialog saat ini juga tidak terlepas dari pernyataan mahasiwa saat dialog di Tambak Bayan tersebut.

“Saya akan menagih janji itu,” tegasnya penuh harap.

“Apakah itu nanti teralisasi atau tidak, harapan saya, masyarakat luar DIY menghargai budaya asli Yogya. Orang Yogya selama ini sangat terbuka kepada pendatang. Rasa gotong-royongnya tinggi dan tetap menjaga sopan santun, karena itu, semua saja. Hargai budaya asli Yogya,” kata Sultan.

Terkait peristiwa tragis di Lapas Sleman, Sultan mengatakan bahwa itu semua menjadi tanggung-jawab penegak hukum. “Itu sudah kriminal dan aparat harus menindak dengan tidak pandang bulu. Mereka (korban-red) apapun alasannya, harus diadili sesuai hukum yang berlaku di negara ini. Perkara mereka pelaku kriminal, semua ada hukumannya,” ujarnya.

Namun Sultan juga mengkritik pelaku kekerasan kepada anggota Kopassus yang menjadi korban di Hugo’s Cafe termasuk anggota Kodim Kota Yogya yang juga dikeroyok kelompok preman.

“Kekerasan semacam itu bukan tradisi penduduk Yogya. Kami terbiasa dengan dialog, meski bertele-tele, tetapi semua masalah harusnya diselesaikan dengan dialog. Tidak main pukul. Pasti akan ada korban,” tegas Sultan.

Ia berharap insiden itu menjadi peristiwa kekerasan terakhir yang terjadi di Yogyakarta.
“Kenapa di Yogyakarta ini selalu tumbuh kekerasan, baik yang terjadi antar etnik ataupun antar mahasiswa. Kenapa harus dilakukan dengan kekerasan? Apakah tidak bisa dengan dialog? Saya tidak membiarkan ini berlangsung terus. Saya sedih, marah dan saya akan tagih komitmen mereka dalam forum ini,” kata Sultan lagi.

Sementara itu, terkait dengan maraknya bentrok antar kelompok etnis dan mahasiswa luar daerah di Yogyakarta, Kepala Kantor Kesatuan Bangsa Kota Yogyakarta Sukamto, akan melakukan pendataan ulang penghuni asrama mahasiswa di Kota Yogyakarta.

“Ini dilakukan selain untuk pembaruan data yang terakhir dilakukan tahun 2008, juga untuk meningkatkan keamanan, dalam situasi Yogya yang baru-baru ini memanas, terkait kasus penyerangan Lapas Cebongan oleh kelompok bersenjata,” katanya.

Sukamto juga meminta penghuni asrama menaati tata tertib yang berlaku di Yogyakarta. “

Dua hari lalu kita sudah undang pihak kecamatan untuk membantu. Ini untuk kerukunan bersama," ujarnya.

Dikatakan, berdasar data 2008 itu, di Kota Yogya terdapat 30 asrama mahasiswa.

"Yang didata di antaranya jumlah asrama, jumlah personel, sejarah asrama, meluluskan berapa sarjana, berapa yang drop-out, hingga yang masih tinggal di asrama. Kami akan memperluas hingga mahasiwa yang indekos di rumah penduduk dan sebagainya," ujarnya.

Suara Pembaruan

Penulis: 152

Sumber:Suara Pembaruan