Ilustrasi pornografi

Jakarta - Aparat Polres Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, mengatakan bahwa pihaknya masih terus menggali pengakuan Kevin (32) dan sebut saja Devi, pasangan suami istri, yang menyediakan jasa "live sex show" pada kliennya. Pasalnya, polisi tak begitu saja mempercayai pengakuan Kevin yang mengaku baru melakukan aksi pornonya itu sebanyak dua kali.

"Ngakunya sih baru dua kali, tapi tentu kami tak percaya. Kami masih gali lagi siapa saja pelanggannya yang bisa jadi luas, dengan modus kejahatan yang mungkin baru terungkap ini. Kalau dari hasil bincang-bincang dengan pelaku, Kevin normal dan sangat rasional," kata Kapolres Tanjung Perak AKBP Anom Wibowo saat dihubungi Beritasatu.com Kamis (4/4).

Perwira dengan dua melati di pundak itu mengatakan jika penangkapan Kevin yang dilakukan pada Selasa (2/4) itu, bermula saat anak buahnya melakukan "undercover investigation" setelah membaca sebuah iklan mini di sebuah surat kabar di Surabaya.

Bunyi iklannya adalah "Kevin & Devi Chinese Massage Khusus Pasutri Bersih, Putih" dengan menyertakan nomor telepon bagi yang tertarik. "Ternyata pengiklan itu tidak hanya menawarkan pijat saja melainkan juga bisa melakukan adegan tontonan sex live yang diperankan oleh Kevin dan istrinya itu. Maka anggota kita yang pura-pura membooking langsung melakukan penangkapan," beber Anom.

Pada polisi, Kevin mengaku jika bagi pelanggan yang ingin menikmati jasanya harus membayar Rp 850 ribu. Itu belum termasuk biaya sewa sebuah kamar hotel di Tambak Bayan, Surabaya, yang biasa dia gunakan untuk buka 'praktik'.

Kevin mengaku jika dia sampai hati melakukan aksi itu bersama istri karena himpitan ekonomi. Pasalnya, upah Kevin yang hanya bekerja sebagai kuli angkut tidak menentu saban bulannya.

"Keduanya kami jadikan tersangka tapi hanya Kevin yang kita tahan. Istrinya tidak tahan dengan alasan kemanusiaan. Pelaku memiliki 2 anak, yang pertama berusia 4 tahun sedangkan anak kedua 2 tahun," beber Anom.

Akibat perbuatannya, keduanya pelaku dijerat dengan pasal 34 dan 36 UU nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara atau denda Rp 5 miliar.

Penulis: Farouk Arnaz