Keluarga Korban LP Cebongan

Kupang - Keluarga korban pembantaian di lembaga permasyarakatan (LP) Cebongan, Sleman, Yogyakarta, meminta agar pelaku diadili di Pengadilan Komisi Hak Asasi Manusia (HAM) karena aksi penyerangan itu merupakan pelanggaran HAM berat.

“Seluruh pelaku pembunuhan LP Cebongan harus diadili di pengadilan HAM,” kata Viktor Manbait, kakak kandung Yohanes Yuan Manbait, salah satu korban penembakan di LP Cebongan, di Kupang, Jumat, (5/4) sore.

Keluarga menilai peristiwa pembantaian di LP Cebongan terjadi secara sistematis dan terencana, yang dilakukan oleh aparatur negara (Kopasus) dengan melibatkan unsur komando. Di mana, pelaku dengan semangat korsa telah melakukan penyerangan dan membantai empat tahanan.

Kesimpulan yang disampaikan tentara nasional Indonesia (TNI) adalah bagian dari skenario Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk menghindari pertanggungjawaban atas pelanggaran HAM berat tersebut.

“Kami menyimpulkan bahwa pembantaian di LP Cebongan adalah pelanggaran HAM berat,” katanya.

Keluarga juga menolak hasil tim investigasi TNI yang menyebutkan tewasnya Serka Heru Santoso di Hugos Cafe karena aksi pembunuhan secara sadis, tragis dan brutal yang dilakukan oleh kelompok preman di Yogyakarta.

“Ini menunujukkan rendahnya integritas dan independensi tim investigasi TNI,” katanya.

Keluarga empat korban penembakan di LP Cebongan mengatakan sebelum keempat tahanan dibantai oleh anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus), telah terjadi pertemuan antara Kapolda DIY dan petinggi TNI.

“Pertemuan itu berlangsung alot, dan menghasilkan beberapa keputusan,” ujar Viktor.

Menurut dia, keluarga menilai hasil investigasi TNI hanya bualan untuk menutupi skenario penyerangan LP Cebongan karena peristiwa di Hugos Cafe pada 19 Maret 2013 dan pembantaian pada 23 Maret 2013 adalah bagian peristiwa penting yang harus diurai secara utuh.

Keluarga korban, kata Viktor, menemukan telah terjadi intimidasi saat pemeriksaan Deky Sahetapy di Polres Sleman, sehingga dipindahkan ke Polda Yogyakarta, pada 19 Maret 2013.

Pada hari yang sama terjadi pertemuan antara Kapolda dan sejumlah petinggi TNI yang menghasilkan beberapa kesepakatan, diantaranya pemecatan terhadap anggota polisi Bripka Yohanes Yuan Manbait.

Bagian lain yakni telah terjadi teror dan intimidasi kepada warga NTT di Yogyakarta.

Empat korban penembakan LP Cebongan pada 23 Maret 2013 yakni Deky Sahetapy, Dedi Chandragalaja, Adi Rohi Riwu dan Juan Manbait. Keempatnya adalah tahanan terkait kasus tewasnya anggota Kopasus di Hugos Cafe.

"Kami menilai hasil investigasi itu merupakan bagian dari rekayasa TNI untuk menutupi skenario pembantaian, dan tutupi jaringan pelaku yang lebih luas,” kata Yani Rohi Riwu, kakak kandung Gamaliel Riwu Rohi, ketika memberikan keterangan pers kepada wartawan di Kupang.

Menurut dia, delapan poin kesimpulan dari tim investigasi TNI menunjukan rekayasa sistematis yang dilakukan TNI dengan merekonstruksi peristiwa secara tidak utuh dan tedensius.

Keluarga menolak beberapa kesimpulan yang disampaikan tim investigasi TNI, diantaranya menyebutkan bahwa empat korban LP Cebongan adalah pelaku pembunuhan di Hugos Cafe.

Karena faktanya, kata Yani, kematian Serka Heru Santoso terjadi karena perkelahian antara salah satu korban dengan dua rekan almarhum Seka Heru Santoso yang tewas di Hugos Kafe.

Keluarga juga menolak kata "preman" yang dilabelkan kepada empat korban LP Cebongan. “Labelisasi itu adalah skenario yang melemahkan posisi korban,” katanya.

Keluarga juga menolak bahwa penyerangan ke LP Cebongan terkait kasus pembacokan terhadap Sertu Sriyono, karena sebenarnya Sertu Sriyono dibacok oleh mantan anggota Kopasus bernama Marshel.

“Ini merupakan sebuah rekayasa,” ujar Yani.

Karena itu, keluarga menolak keras spkeluasi tim investigasi TNI dalam merekonstruksi pembantaian di LP Cebongan yang penuh rekayasa.

“Keterlibatan dan peran anggota Kopasus harus diusut tuntas dengan menggunakan hukum sipil, bukan militer,” katanya.

Empat Putra NTT, Deky Sahetapy, Dedi Chandar Galaja, Adi Rohi Riw dan Juan Manbait adalah korban penembakan di LP Cebongan pada 23 Maret 2013 lalu.

Suara Pembaruan

Penulis: YOS/FEB

Sumber:Suara Pembaruan