Ilustrasi longsor

Pandeglang - Sebanyak 383 keluarga (KK) atau sekitar 1.915 jiwa yang terdapat di tiga kampung, yakni Kampung Kadupedang, Kadujangkung dan Pasirpinang, Desa Ramea, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, harus terisolir akibat longsor yang menyebabkan dua jembatan di wilayah itu tertimbun tanah dan bebatuan. Kedua jembatan tersebut dikenal sebagai jalur tranportasi yang menghubungkan Kecamatan Mandalawangi dengan Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang.

Wakil Koordinator Taruna Siaga Bencana (Tagana) Banten, Dadan Suryana, serta Koordinator Tagana Pandeglang, Tb Ade Mulyana mengatakan, jika curah hujan terus intensif mengguyur wilayah itu, maka jalur keluar dan masuk ke tiga kampung itu akan sulit dilewati. Bantuan pun akan sulit didistribusikan.

"Kami dari personil Tagana, baru bisa menembus ke Kampung Kadupedang saja. Kami belum bisa masuk ke kedua kampung lainnya, karena terhalang timbunan tanah longsor di dua jembatan tersebut. Kami terpaksa kerahkan puluhan relawan Tagana untuk membantu warga membersihkan material longsor," ujar Dadan, Minggu (7/4) sore.

Dadan berharap pemerintah setempat cepat menurunkan alat berat untuk membersihkan tanah longsor tersebut, sehingga bantuan bisa disalurkan ke para korban. "Kami dari Tagana berniat untuk mengevakuasi warga tiga kampung tersebut ke tempat yang lebih aman," katanya pula.

Dadan menjelaskan, pada hari Sabtu (6/4) sekitar pukul 18.00 WIB, empat rumah terbawa banjir bandang di Kampung Kadupedang, Desa Ramea. Selain itu, puluhan rumah warga lainnya juga terancam terbawa banjir bandang dan longsor, karena curah hujan begitu tinggi di wilayah Pandeglang.

Sementara itu, Kepala Desa Ramea, Busro, menjelaskan bahwa desanya dilanda banjir bandang yang disebabkan oleh longsor yang menutup aliran Sungai Kadupedang. "Hujan turun terus-menerus, akhirnya air sungai bercampur lumpur longsoran meluncur ke Kampung Kadupedang. Akibatnya, empat rumah warga hilang terbawa derasnya banjir bandang," kata Busro.

Dijelaskan Busro, keempat rumah itu antara lain milik Yani, Dainang, Oji, dan Sawariah. Sedangkan sebanyak 700 warga Kampung Kadupedang lainnya, menurutnya harus mengungsi ke tempat yang lebih aman karena khawatir terjadi longsor susulan. "Longsor itu juga menyebabkan akses jalan antara Ramea-Ciomas, Kabupaten Serang, terputus karena material longsoran itu menutupi badan jalan," jelasnya.

Dilaporkan bahwa selain Kecamatan Mandalawangi, dua kecamatan lainnya di Pandeglang, yakni Kecamatan Labuan dan Kecamatan Patia, juga tergenang banjir. Untuk Kecamatan Labuan, yang paling parah terkena banjir adalah Desa Teluk, di mana sebanyak 1.200 KK atau sekitar 2.500 jiwa di wilayah itu harus terkena banjir. Sedangkan untuk Kecamatan Patia, terdapat tiga kampung yang terkena banjir yakni Kampung Tajur, Kampung Sindang Rahayu, Kampung Karangtengah, dengan jumlah keluarga yang terkena banjir sekitar 279 KK.

Sementara itu di wilayah Kabupaten Serang, khususnya di Kecamatan Padarincang, juga terkena banjir akibat meluapnya air dari Sungai Cikalumpang. Banjir tersebut terutama dilaporkan menggenangi rumah warga di Desa Kalumpang dan Desa Citasuk, dengan ketinggian satu meter.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banten, Ino S Rawita mengatakan, pihaknya terus berkoordinasi dengan BPBD Pandeglang untuk secara bersama-sama menangani para korban banjir dan longsor tersebut. "Kami selalu berkoordinasi untuk menangani para korban, termasuk kemungkinan untuk segera dikirimkan bantuan dari BPBD Banten," jelasnya.

 

Suara Pembaruan

Penulis: 149

Sumber:Suara Pembaruan