Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memimpin jalannya rapat kabinet terbatas di Kantor Presiden, Jakarta.

Jakarta - Beberapa kasus kekerasan hingga pembunuhan yang melibatkan aparat Tentara Nasional Indonesia (TNI) baik terhadap instansi dan oknum membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) segera merealisasikan rencana mendatangi markas besar (Mabes) TNI Angkatan Darat (AD).

Kedatangan SBY melalui silaturahmi, Selasa (9/4) hari ini diakui KSAD Pramono Edhie Wibowo tidak bisa dilepaskan dari hal-hal tersebut.

“Ada mungkin tadi disampaikan, saya (merujuk SBY) mengingatkan masalah kepemimpinan di lapangan, ada ada hubungannya. Tadi bapak mengingatkan bahwa mungkin ada beberapa hal yang perlu diingatkan, kepemimpinan itu yaitu kedekatan dari pemimpin kepada anggota,” kata KSAD Pramono Edhie Wibowo di Mabes AD, Jalan Veteran, Jakarta.

Dalam pengarahannya didepan para pimpinan dan staf Mabes TNI, Presiden SBY memang banyak menyinggung masalah kepemimpinan.

Menurut presiden, canggihnya teknologi informasi tak menjadi alasan pimpinan atau komandan tidak mengenal anak buahnya. Bahkan pemimpin kata dia harus mengerti dan mengenal keseharian anak buah sehingga hal-hal yang berpotensi buruk bisa dihindarkan.

“Bidang penugasannya mungkin berbeda, tidak seperti saya sering penugasan sehingga mereka (prajurit saat ini) juga jarang (bertugas luar), itu menjadi koreksi kami semua,” ujar Pramono, lagi.

Namun kunjungan presiden tersebut kata dia bukan agenda mendadak. Presiden SBY sejak terpilih menjadi RI tahun 2004 belum pernah bertandang ke Mabes AD yang hanya beberapa gedung jaraknya dari Istana Negara.

Kunjungan ini kata Pramono Edhie bahkan sudah direncanakan sejak tahun 2012 namun presiden tahun kemarin memiliki agenda yang kata dia cukup menyibukkan.

“Beliau itu memang belum pernah berkunjung ke AD dan kebetulan hari ini hari olahraganya AD Beliau berkesempatan memang ingin ke AD jadi ya bersama-sama,” tutup KSAD.

Belakangan TNI AD dilibatkan dengan kasus-kasus kekerasan hingga pembunuhan antara lain pembakaran Mapolres Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan (Sumsel) oleh puluhan aparat TNI yang menyebabkan kebakaran gedung dan polisi luka-luka.

Setelah itu aparat TNI dari Kopassus juga mengaku melakukan pembunuhan terhadap empat tersangka di LP Cebongan, Yogyakarta dengan mengatasnamakan korsa atau solidaritas antarprajurit sebab tersangka melakukan penganiayaan terhadap kolega mereka.

Penulis: Ezra Sihite/YUD