Logo Partai Demokrat

Lombok - Ada banyak art shop yang terpinggirkan dan luput dari perhatian masyarakat di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Bahkan, beberapa art shop jarang dikunjungi karena pemandu wisata lebih cenderung merekomendasikan turis ke art shop yang besar.

Kondisi ini dinilai tidak menguntungkan dalam upaya memajukan usaha kecil dan menengah (UKM). Inilah yang menjadi alasan utama Persaudaraan Istri-istri Anggota DPR-RI dari Fraksi Partai Demokrat atau yang akrab disebut PIA FPD melakukan serangkaian kegiatan bhakti sosial selama dua hari di NTB, Jumat-Sabtu (12-13/4).

Berjumlah 16 orang, rombongan dipimpin langsung Ketua PIA FPD Ilah Hollilah dan Titin Nanang Samodra, istri Nanang Samodra, anggota DPR dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Barat.

Rombongan PIA FPD meninjau pusat tenun Sukarara di Desa Sukarara, Lombok Tengah dan berinteraksi dengan perajin tenun. Sebagian besar warga Desa Sukarara menenun kain sarung, selendang, ataupun capuk pakaian adat Lombok Tengah.

"Dengan kehadiran ini kita coba memberikan solusi. Kita mendorong mereka agar menata art shopnya menarik untuk dikunjungi para turis dan kualitasnya terjamin," kata Titin dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (13/4)

Rombongan melakukan interaksi dengan sekitar 100 perajin tenun, tokoh adat dan tokoh agama setempat. PIA FPD bermaksud mendorong perkembangan perajin daerah menjadi maju. "Kita hendak menunjukkan kecintaan kepada produk dalam negeri. Kami juga hadir untuk memberi bantuan," kata Ilah, yang merupakan istri Sekretaris Fraksi Partai Demokrat DPR-RI, Saan Mustopa.

Menurut Ilah, ke depan mereka memiliki kewajiban moril untuk menggunakan, dan mengkampanyekan produk kerajinan daerah.

PIA FPD juga melakukan kunjungan ke Gili Trawangan untuk melihat peternakan penyu dilanjutkan ke pasar mutiara Sekarbela.

Selama ini, PIA FPD yang menjadi wadah perkumpulan istri anggota dewan dari partai yang sekarang dipimpin langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhyono itu, aktif melakukan berbagai kegiatan sosial.

Suara Pembaruan

Penulis: PR/J-11/WBP

Sumber:Suara Pembaruan