Ratusan karyawan Airbus berpose di depan contoh pesawat Airbus yang dipesan Lion Air, di Bandara Toulouse, Prancis, Senin (18/3) sore. Lion Air telah menandatangani kontrak pemesanan 234 unit pesawat Airbus A320 dan A321.

Bandung - Pengamat penerbangan Gerry Soedjatman menduga peristiwa gagal mendaratnya pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 904 karena ada faktor windshear. Dugaan itu terkait dengan laporan dari pilot yang sebelumnya mendarat di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali.

“Pesawat itu mendaratnya menghadapi angin. Kalau tiba-tiba ada angin dari atas (pesawat) bisa turun. Tapi kita belum tahu, perlu pemeriksaan dan data menyeluruh,” kata Gerry saat dihubungi SP, Sabtu (13/4) sore.

Windshear merupakan perubahan aliran udara dari segi arah maupun kecepatan. Apabila pilot tidak menyadari indikasi adanya windshear, maka secara naluri ia akan mengurangi kecepatan pesawat. Namun, begitu pesawat melewati windshear, angin akan berubah menjadi downdraft. Faktor ini bisa mengakibatkan kecepatan udara pada sayap yang berkorelasi dengan hilangnya gaya angkat pesawat.

Berdasarkan informasi yang dia terima, Gerry menyatakan, pesawat itu bukan keluar dari landasan dan jatuh ke laut. “Mungkin belum sampai (landasan), dia datang dari arah laut atau mendaratnya dari barat ke timur. Kita juga belum tahu mengapa dia tidak sampai (landasan),” tambah Gerry.

Pesawat yang gagal mendarat di landasan itu parah di bagian ekor dan posisinya ada di air.

Pesawat jenis Boeing 737-800 NG ini merupakan produksi tahun 2012. Teknologi yang menopangnya cukup canggih. Sejauh ini, Lion Air sendiri sudah mengoperasikan 11 unit pesawat jenis 737-800 NG.

Pesawat itu berangkat dari Bandung menuju Denpasar saat kecelakaan itu terjadi. Sebelumnya, pesawat itu berangkat dari Banjarmasin di bawah kemudi Kapten M. Ghozali.

Suara Pembaruan

Penulis: 153/FMB

Sumber:Suara Pembaruan