Jakarta – Pemerintah menargetkan harga daging sapi yang kini masih berkisar di Rp 91 ribu per kilogram akan turun sama seperti pada tahun lalu yang berkisar antara Rp 75-76 ribu per kilogram. Untuk itu pemerintah akan mengambil sejumlah langkah berdasarkan hasil laporan dan analisis yang dilakukan oleh kementerian terkait.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa, menjelaskan tingginya harga daging sapi hingga saat ini disebabkan oleh tingginya permintaan, seiring dengan meningkatnya jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia. Oleh karenanya pasokan daging yang ada perlu ditambah, khususnya pada kuota impor daging.

“Kita sudah berusaha keras menurunkan dengan harga paling tidak harga tahun 2012 sekitar Rp76 ribu, itu harga yang harus kita kejar ke arah itu. Maka perlu tambahan pasokan yang kami utamakan terhadap yang sudah mendapatkan kuota, agar mempercepat mensuplai ke pasar,” tutur Hatta usai memimpin rakor pangan dikantornya, Jakarta, Rabu (17/4).

Hatta menegaskan pemerintah akan memberikan sanksi yang keras terhadap para importir yang lalai untuk mensuplai daging, padahal sudah mendapat. Hal ini karena kelalaian ini akan mempengaruhi keseimbangan pasokan dan permintaan, sehingga akan berpengaruh terhadap kestabilan harganya.

Menurutnya kendati kuota yang sudah ditetapkan itu sudah diberikan dan bisa masuk pasar semua, namun pemerintah memproyeksi pasokan daging tetap membutuhkan tambahan. Dengan pasokan yang cukup, diharapkan target penurunan harga bisa dicapai dan berdampak pada penurunan inflasi.

“Kita sudah melihat bulan terakhir inflasi kita tinggi 2,43 persen year to date dan ini bisa mempengaruhi daya beli masyarakat kita secara keseluruhan. Oleh karena itu inflasi harus kita kendalikan, kuncinya adalah harga yg menyangkut volatile food hars kita kendalikan,” katanya.

Untuk tata niaganya, katanya, Kementerian Pertanian (Kementan) dan Kementerian Perdagangan telah sepakat untuk menyederhanakannya dalam satu atap. Sistem satu atap tersebut diharapkan akan merespon dengan cepat, mulai daripada rekomendasi sampai dengan eksekusi untuk pengimporan dan juga pengendalian di lapangan agar tidak terjadi penyimpangan.

“Jadi yang penting kita harus lindungi peternak kita. Kita tidak mungkin harga Rp 91 ribu karena akan menghantam inflasi yang tinggi dan tentu akan mempengaruhi daya beli masyarakat kita yang mengkonsumsi daging, tapi kalau terlalu bawah peternak kita yang menjerit. Yang jenis prime cut tidak akan masuk ke pasar mempengaruhi ke pasar, karena itu kan kelompoknya beda” katanya.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan pihaknya akan memilah jenis- jenis daging yang akan diimpor. Untuk jenis tertentu yang masuk kategori premium dan tidak bisa diproduksi secara nasional tidak akan dibatasi impornya karena tidak ada elastisitas harganya.

Kendati demikian, izin impor daging jenis prime cut atau premium ini akan dijaga supaya tidak disalahgunakan untuk mengimpor daging jenis biasa yang juga diproduksi nasional. Untuk itu pihaknya akan menggandeng Kementan, Bea Cukai dan Karantina dalam pengawasan barang ekspornya.

“Yang harus dijaga adalah di lapangan jangan sampai nanti mereka kita kasih izin untuk impor tipe premium tapi ternyata yang diimpor bukan tipe-tipe premium atau apa. Nah itu nanti kita akan duduk dengan kementerian pertanian, teman Bea Cukai dan karantina. Ini akan mempengaruhi volume impor,” imbuhnya.

Menteri Pertanian, Suswono, menuturkan untuk menjamin ketersediaan pasokan daging sapi, pihaknya akan memaksimalkan potensi dalam negeri. Namun dia mengaku pasokan daging masih terhambat masalah kelancaran transportasi, khususnya dari daerah pemasok daging seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Dia memberikan contoh biaya angkutan dengan kereta api ternyata lebih mahal jika dibandingkan dengan mempergunakan truk karena dari pengumpul dan stasiun awal perlu ongkos lagi. Dengan demikian biaya yang dikeluarkan lebih mahal jika dibanding dengan mengangkut langsung dari rumah potong hewan (RPH) pakai truk ke lokasi.

“Jadi hal-hal seperti ini menghadapi transportasi, baik mengangkut ternak dan juga daging ini masih mengalami kendala untuk mensuplai ke Jakarta. Karena kebutuhan utama untuk konsumsi ini kan Jawa Barat terutama Jakarta dan Banten,” jelas dia.

Dia juga setuju untuk membuka keran impor daging selama masih terjadi kekurangan pasokan. Oleh karena itu, katanya, pemerintah akan mengupayakan untuk terus meningkatkan produksi, bersamaan dengan memenuhi ketersediaan alat transportasinya.

Penulis: WYU/AF