Ilustrasi pilot mengoperasikan pesawat.

BANYUWANGI- Kementerian Perhubungan menyiapkan dana Rp 200 miliar untuk memajukan sekolah pilot di Banyuwangi yang didirikan pada November 2012 lalu. Sekolah pilot ini diharapkan nanti bisa mencetak 60 pilot per tahun untuk memenuhi kebutuhan industri penerbangan nasional.

Kepala Badan Pengembangan SDM Kemenhub Santoso Eddy Wibowo mengatakan, SDM merupakan faktor vital dalam industri penerbangan. Seiring dengan penambahan maskapai penerbangan, jumlah pilot yang diperlukan setidaknya 800 pilot per tahun. Sedangkan untuk kawasan Asia, kebutuhannya mencapai sekitar 185.000 pilot hingga 2031.

"Karena itulah, kita dorong keberadaan sekolah pilot di Banyuwangi. Sekolah penerbangan ini merupakan sekolah pilot negeri kedua di Indonesia selain sekolah serupa yang sudah ada di Curug, Tangerang, Banten," ujar Santoso Eddy di sela penerbangan perdana sekolah pilot di Bandara Blimbingsari, Banyuwangi, Rabu (17/4).

Dia menjelaskan, untuk sekolah pilot di Banyuwangi tahun ini disiapkan dana Rp40 miliar. Dana itu termasuk untuk pembelian tiga pesawat latih Cesna 1755, sehingga tahun ini sekolah pilot Banyuwangi akan mempunyai lima pesawat latih dari sebelumnya hanya punya dua, yaitu Socata Tobago Tb 10. Hingga 2016, total dana yang disiapkan sebanyak Rp200 miliar yang digunakan untuk penyelesaian kampus dan berbagai fasilitas ideal lainnya.

"Kita sudah kerja sama dengan Boeing yang akan melakukan supervisi untuk meningkatkan kualitas SDM di industri penerbangan, termasuk para pilot di sekolah ini," terang Santoso.

Sejak didirikan pada November 2012, sekolah pilot di Banyuwangi memiliki 12 siswa pada angkatan pertama.

Santoso berharap, ke depan, dari sekolah pilot Banyuwangi, akan dihasilkan lulusan 60 pilot per tahun.

"Tentu itu tidak cukup dan terus kita tingkatkan. Seiring penambahan jumlah siswa dan fasilitas, diharapkan lulusan bisa di atas 100 pilot per tahun. Sekolah pilot di Banyuwangi ini disiapkan sebagai pilot project untuk pengembangan sekolah pilot modern di Indonesia. Kita akan godok pilot-pilot andal dari Banyuwangi," ujarnya.

Dia menambahkan, pendirian sekolah pilot negeri Banyuwangi sangat urgen lantaran training area sekolah serupa di Curug Tangerang saat ini sudah terbatas dan terkurangi oleh aktivitas bandara Soekarno-Hatta. Dipilihnya Banyuwangi sebagai lokasi sekolah pilot karena dinilai paling feasible dibanding daerah lainnya. Wilayah yang sempat dipertimbangkan adalah Jember dan Bandara Trunojoyo Sumenep.

“Hambatan Banyuwangi relatif tidak ada, dataran sekitarnya cukup landai. Training area-nya juga masih luas sehingga masih bisa dikembangkan. Pemda-nya juga sangat mendukung,” ujar Santoso.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar mengatakan, kebijakan ASEAN Open Sky 2015 hingga kebijakan pasar penerbangan tunggal ASEAN 2020, lanjut Anas, membutuhkan setidaknya tambahan 4.000 pilot, 1.000 pengatur lalu lintas, dan 4.500 teknisi. "Banyuwangi ingin ikut berkontribusi dalam hal penciptaan pilot. Untuk sekolah pilot ini, kita siapkan lahan 5 hektar," katanya.

Menurut Anas, kehadiran sekolah pilot modern ini merupakan salah satu terobosan penting dari Banyuwangi dan semakin melengkapi infrastruktur pendidikan di Banyuwangi setelah penegerian Politeknik Banyuwangi.

"Ini merupakan salah satu ikhtiar kami untuk terus mencari terobosan-terobosan baru untuk memajukan Banyuwangi," ujar Anas.

Investor Daily

Penulis: ROS/FMB

Sumber:Investor Daily