Jakarta - Melihat suku Asmat tak lagi menjadi tuan di tanahnya sendiri dan terjerat dalam berbagai persoalan klasik seperti pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan hidup, Profesional dan Usahawan Katolik Keuskupan Agung Jakarta (PUKAT KAJ) menggelar pameran foto dan patung dengan tema "Asmat : The Spirit of Agats". Pameran tersebut diresmikan secara langsung oleh Menteri Kesehatan RI, Nafsiah Mboi.

Pameran foto dan patung tersebut digelar mulai tanggal 18 April hingga 20 April 2013 di Blackwater, West Mall Grand Indonesia. Tidak hanya pameran saja, juga dilakukan penggalangan dana dengan menjual foto-foto yang menceritakan aktifitas kehidupan sehari-hari suku Asmat. Donasi tersebut akan disumbangkan untuk kesejahteraan hidup masyarakat Asmat melalui Keuskupam Agats.

Pameran ini menampilkan koleksi foto Suku Asmat yang dibidik oleh lima fotografer yang berasal dari profesional, awam dan kaum misi yang melayani Keuskupan Agats. Kelima fotografer tersebut adalah Jenfilia Suwandrei Arifin, Pastor Robert Ramone, Brunoto Suwandrei Arifin, Budhi Ipoeng dan Pastor Vincent Cole.

Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Mgr Ignatius Suharyo, mengatakan keluhuran nilai hidup Suku Asmat bisa disimak melalui karya seni Asmat yang hadir menyapa warga urban di Jakarta.

"Semoga pameran foto dan patung ini membuat kita semakin terdorong untuk mengenal Agats dan Suku Asmat lebih jauh. Serta semoga anda jatuh hati pada Agats sehingga tertarik untuk ikut peduli kepada masyarakat Suku Asmat melalui Keuskupan Agats," kata Mgr Suharyo dalam peresmian pameran di Blackwater Exhibition hall, West Mall Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (18/4).

Uskup Keuskupan Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM, mengatakan kekhasan serta keistimewaan hasil budaya maupun kehidupan Suku Asmat ditengah himpitan modernisasi yang akan diperlihatkan melalui pameran foto dan patung Asmat.

"Pameran ini seolah menghadirkan Kabupaten Asmat, terutama Agats sebagai ibukota kabupaten di Kota Jakarta. Setiap momen di Agats, baik kegiatan sehari-hari maupun karakter masyarakat Asmat terungkap lewat bidikan lensa para fotografer," kata Aloysius.

Menurutnya, lokasi yang relatif masih sulit dijangkau membuat Agats relatif terpencil. Semakin banyaknya pendatang kini menimbulkan persoalan baru bagi suku yang terkenal sebagai ahli peramu dan berburu.

Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat, penyakit malaria mendominasi kehidupan Suku Asmat yaitu sebanyak 28 persen. Disusul penyakit infeksi saluran nafas sebanyak 19 persen dan diare 10 persen.

Disamping itu juga masih ditemui penyakit filariasis (kaki gajah), cacingan, kurang gizi, frambusia (penyakit infeksi kulit) dan AIDS. Bahkan di distrik Mamugu, Kabupaten Asmat telah ditemui 119 penderita kusta dari total 332 penduduk.

"Meski dikelilingi dengan masalah, masyarakat Suku Asmat tetap hidup berpegang pada nilai-nilai leluhur. Keluhuran nilai hidup mereka tercermin dalam rangkaian foto ini. Diantaranya kerja sama, kasih sayang dan semangat berbagi," ujarnya.

Ketua Panitia Pameran Foto dan Patung, J Hariadi Widiarta, menerangkan seluruh koleksi foto, patung dan informasi mengenai Asmat terangkum dalam buku esai foto dengan judul "Agats, Kota di Atas Papan", yang juga diluncurkan bersamaan dengan pembukaan pameran hari ini.

Penulis: Lenny Tristia Tambun/AF