Ilustrasi logo GP Ansor.

Jakarta - Gerakan Pemuda (GP) Ansor yang merupakan organisasi masyarakat (ormas) berafiliasi dengan Nahdatul Ulama (NU), menggelar Festival Budaya Pesantren menyambut hari lahirnya (Harlah) yang ke-79.

Festival Budaya Pesantren yang bertema "Dari Pesantren untuk Bangsa, Merevitalisasi Tradisi dan Menghargai Budaya Lokal" itu digelar di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu (20/4). Ketua Panitia, Ace Hasa Syadzili mengatakan, ada tiga tujuan yang hendak dicapai dari peringatan Harlah GP Ansor tersebut.

"Pertama, menegaskan budaya pesantren sebagai sub-kultur Indonesia yang lebih adaptif dan menghargai terhadap tradisi dan kearifan lokal," kata Ace.

Tujuan kedua, lanjut Ace, adalah mengembalikan akar budaya Indonesia yang cinta damai, toleran dan ramah. Lalu ketiga, menunjukkan komitmen atas kekuatan sejarah, militansi paham keagamaan, militansi perjuangan serta kader GP Ansor, dalam membentuk karakter budaya bangsa.

Ace menjelaskan, acara ini menghadirkan kyai sekaligus budayawan KH Mustofa Bisri atau Gus Mus, yang menyampaikan pidato budaya bertema "Kepemimpinan dalam Perspektif Budaya Pesantren". Dalam pidatonya, Gus Mus diharapkan tidak hanya menyampaikan peran dan kontribusi pesantren sebagai sub-kultur budaya Indonesia, tapi juga menjelaskan bagaimana sistem nilai yang diajarkan di pesantren seharusnya dijadikan sistem nilai yang dapat membangun karakter bangsa.

"Di samping itu, Gus Mus juga membacakan karya-karya puisinya," kata Ace.

Selain Gus Mus, Tadarus Puisi juga akan dilakukan oleh Acep Zamzam Noer, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD, serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) M Nuh. Tidak hanya itu, Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wiryawan pun akan tampil memainkan irama piano untuk mengiringi pembacaan puisi para tokoh itu. Sementara itu seniman Butet Kertaradjasa akan tampil dengan monolog puisinya.

Sementara itu, Ketua Umum GP Ansor, Nusron Wahid mengatakan, peran dan pengaruh Islam yang lebih menonjol terlihat dalam sistem pendidikan dan sistem budaya bangsa. Dalam bidang pendidikan menurutnya, pesantren mengajarkan nilai-nilai Islam yang memberikan alternatif baru kepada para penganutnya. Sementara secara budaya, tradisi Islam pesantren masuk dan berinteraksi dengan budaya lokal secara damai, bersifat terbuka dan inklusif.

"Inilah budaya dasar pesantren yang lebih adaptif terhadap tumbuhnya nilai-nilai budaya lokal," kata Nusron.

Dalam kaitan itu, GP Ansor sebagai bagian dari NU dinyatakan selalu berkomitmen untuk melestarikan dan merevitalisasi nilai-nilai budaya pesantren dalam sistem budaya nasional. Pelestarian tradisi dan budaya pesantren pun diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi upaya membangun karakter bangsa.

 

Investor Daily

Penulis: RIS

Sumber:Investor Daily