Kiai sekaligus budayawan KH Mustofa Bisri atau Gus Mus menyampaikan orasi budaya dalam acara "Festival Budaya Pesantren Harlah ke-79 Gerakan Pemuda Ansor" di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu (20/4) malam

Jakarta - Orang desa selalu dianggap ketinggalan dari perkembangan kota atau kerap disebut ndeso. Namun, dari ndeso ini tersimpan nilai-nilai luhur yang bisa dibawa ke perkotaan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat.

Seperti prinsip mantan Presiden Abdurahman Wahid atau Gus Dur, yang tetap membawa nilai-nilai desa, dan menerapkannya dalam bentuk kebijakan serta tindakan baik sebagai kepala negara maupun pimpinan agama. Gus Dur membawa kelugasan, kerendahan hati, kerukunan, toleransi, solidaritas kemanusiaan, kejujuran, kesetiakawanan, dan menyukai kebersamaan.

Nilai-nilai desa inilah yang diharapkan bisa diteruskan oleh Nadlatul Ulama (NU), khususnya pemuda Ansor untuk membangun karakter bangsa. Kembalilah ke nilai desa yang belum tercemar.

Demikian tausiah kiai sekaligus budayawan KH Mustofa Bisri atau Gus Mus pada peringatan hari ulang tahun ke-79 Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Jakarta, Sabtu (20/4). Dalam tausiahnya Gus Mus juga menyentil para pejabat negara yang silau dengan budaya perkotaan dan melupakan budaya desa. Pada kesempatan itu, Gus Mus juga membacakan puisi karyanya sendiri.

“Banyak nilai ndeso yang bisa dibawa ke kota, tapi sayangnya orang ndeso ke kota jadi silau, dan akhirnya mengkota-kotakan diri. Orang ndeso ke kota tidak lagi sederhana dan mudah dijajah nilai perkotaan, seperti Indonesia dijajah globalisasi,” kata Gus Mus.

Menurutnya, nilai desa yang dimiliki bangsa ini telah digerogoti budaya luar. Tetapi, itu bukan kesalahan dunia luar, melainkan dari bangsa sendiri.

Gus Mus juga menyinggung soal politik dijadikan prioritas di era reformasi ini. Hal ini menunjukkan ketidakreatifan pemerintah dalam mengelola negara. Padahal sebelumnya, pada era Soekarno sudah dikuasai oleh politik, lalu ekonomi pada rezim Soeharto. Akibat didominasi politik, kondisi bangsa menjadi karut-marut seperti sekarang ini. Untuk itu, Gus Mus mengusulkan bidang kebudayaan seharusnya dikedepankan yang akan menjadikan manusia Indonesia dan negeri ini berbudaya.

“Orang suka kaya, tetapi belum siap untuk kaya, lalu saling sikut-menyikut untuk kepentingan sendiri dan kelompok. Perkotaan menjadikan orang materialistis dan konsumtif,” tegasnya.

Intoleransi Disentil
Terkait toleransi dan solidaritas kemanusiaan, seniman Butet Kertaradjasa dalam monolog puisinya juga menyentil kasus intoleransi akhir-akhir ini. Kekerasan atas nama agama makin gencar dilakukan kelompok tertentu untuk kepentingan sendiri. Agama juga dipakai sebagai kendaraan untuk kepentingan politik.

Indonesia sangat membutuhkan tokoh seperti Gus Dur, yang tidak menggunakan agama sebagai alat, tetapi sebaliknya membangun toleransi. Sosok Gus Dur juga harus dimiliki pejabat sekarang, yang tidak hanya berkomentar, melainkan bertindak cepat ketika terjadi masalah. Sikap toleran, membela yang benar meskipun berbeda keyakinan, dan sigap bertindak, yang diharapkan ada pada pemuda Ansor.

“Mengingatkan kita pada Gus Dur yang mendahulukan tindakan, dan menghilangkan birokrasi yang rumit. Tindakan beliau cepat karena birokrasi terlalu lamban,” kata Butet.

Menurutnya, mungkin jika kalangan agamawan yang menjadi pejabat akan lebih menyelesaikan masalah dengan bijaksana, bukan pejabat yang hanya mempersoalkan halal dan haramnya sebuah produk, dan hanya memperdagangkan sertifiksi halal.

Sedangkan Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid mengatakan peran dan pengaruh Islam yang lebih menonjol terlihat dalam sistem pendidikan dan sistem budaya bangsa. Dalam bidang pendidikan, pesantren mengajarkan nilai-nilai Islam yang memberikan alternatif baru kepada para penganutnya. Hal ini terlihat dari pembentukan pola hubungan antara santri dan kiai, masjid dan rumah, serta membentuk nilai-nilai yang menghargai tradisional lokal.

Secara budaya, tradisi Islam pesantren masuk dan berinteraksi dengan budaya lokal secara damai, bersifat terbuka dan inklusif. “Inilah budaya dasar pesantren yang lebih adaptif terhadap tumbuhnya nilai-nilai budaya lokal,” katanya.

Modal budaya yang dimiliki pesantren ini, lanjut Nusron, tentu harus dilestarikan dalam sistem nilai kebudayaan nasional sebagai sekumpulan tradisi dan nilai yang merupakan konvergensi dari seluruh elemen kebudayaan lainnya. Budaya pesantren yang merupakan bagian dari sistem kebudayaan nasional telah banyak mewarnai sistem budaya bangsa ini.

Dalam kaitan itu, Ansor sebagai bagian dari NU, selalu berkomitmen untuk melestarikan dan merevitalisasi nilai-nilai budaya pesantren yang diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi upaya membangun karakter bangsa.

Merevitalisasi Tradisi
Sementara itu, Ketua Panitia Hari Lahir ke-79 GP Ansor, Ace Hasan Syadzil menambahkan dalam upaya itu GP Ansor menggelar “Festival Budaya Pesantren” dalam rangka memperingati hari lahir ke-79 dengan tema “Dari Pesantren untuk Bangsa: Merevitalisasi Tradisi dan Menghargai Budaya Lokal”.

Ada tiga tujuan yang ingin dicapai dari peringatan harlah ke-79 ini. Pertama, menegaskan budaya pesantren sebagai subkultur Indonesia yang lebih adaptif dan menghargai tradisi dan kearifan budaya lokal.

Kedua, mengembalikan akar budaya Indonesia yang cinta damai, toleran, dan ramah. Ketiga, menunjukkan komitmen atas kekuatan sejarah, militansi paham keagamaan, militansi perjuangan serta kader GP Ansor dalam membentuk karakter budaya bangsa.

Peringatan hari ulang tahun GP Ansor yang dihadiri sekitar 1.000 orang ini dimeriahkan dengan pembacaan puisi dan monolog oleh sejumlah pejabat. Tadarus puisi juga dilakukan oleh Acep Zamzam Noer dari Pesantren Cipasung, Jawa Barat, KH Zawawi Imron (pesantren Madura), mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Menteri Perdagangan Gita Wirawan.

Tidak hanya itu, Gita juga tampil memainkan piano untuk mengiringi pembacaan puisi para tokoh ini. Sedangkan Butet Kertaradjasa tampil dengan monolog puisinya. Acara ini semakin meriah dengan penampilan kesenian rampak beduk dari Banten, serta lantunan syair-syair zikir yang dibawakan oleh Ki Ageng Ganjur.

Suara Pembaruan

Penulis: D-13/AB

Sumber:Suara Pembaruan