Ilustrasi Bendera Merah Putih

Jakarta - Satu lagi kekayaan budaya Bangsa Indonesia yang terancam karena tidak diakui oleh negara. Bendera Pusaka Merah Putih yang dijahit oleh istri Presiden Soekarno, Fatmawati, dan dikibarkan pertama kali pada 17 Agustus 1945 belum tercatat sebagai cagar budaya nasional hingga saat ini.

“Kedudukannya jelas sangat penting, sehingga kita harus mengamankan dan menjaganya. Saya tidak tahu persis mengapa Bendera Pusaka Merah Putih belum juga tercatat sebagai cagar budaya nasional. Tetapi sepanjang belum tercatat sebagai cagar budaya nasional, tentu sifat perlindungannya menjadi tidak optimal,” kata Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Wiendu Nuryanti di Jakarta, Senin (22/4).

Karena itu, pihaknya kini tengah berjuang agar bendera Pusaka Merah Putih segera menjadi salah satu benda cagar budaya nasional. Sambil menunggu keputusan tersebut, minimal akan dibuat surat keputusan terlebih dahulu supaya aman.

Bendera Pusaka Merah Putih saat ini berada di Istana Negara. Sekitar tiga tahun lalu pernah muncul wacana untuk memindahkannya ke Monuman Nasional. Namun karena terbentur biaya pemindahan yang nilainya hingga miliaran rupiah, akhirnya proses pemindahan gagal dilaksanakan.

Tetapi Wiendu yakin pada saatnya nanti bendera Pusaka Merah Putih tersebut akan dipindahkan ke Monas agar bisa dilihat dan dinikmati oleh masyarakat luas.

“Sedang dicari bagaimana bentuk penyimpanannya karena memang sudah lapuk dimakan usia. Bisa tegak, agak miring sedemikian derajat agar bisa dilihat masyarakat Tanah Air,” ucap Wiendu.

Selain bendera Pusaka Merah Putih, Kemendiknas juga merekomendasikan 20 benda dan produk budaya lain untuk menjadi cagar budaya nasional. Ke 20 produk budaya yang direkomendasikan itu adalah Candi Borobudur, Museum Kebangkitan Nasional, Situs Sangiran, Galeri Nasional, dan Koleksi Lukisan.

Selain itu ada juga Museum Sumpah Pemuda, Museum Kebangkitan Nasional, Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Museum Benteng Vrederburg, Candi Muara Takus, Jam Gadang, Kawasan Muara Jambi, Tugu Monas, Naskah Negara Kertagama, Arca Prajna Paramita, Temuan Emas Wonoboyo, Mahkota Sultan Bima, Naskah Teks Proklamasi, Biola WR Supratman, Prasasti Kedukan Bukit, dan Kawasan Trowulan.

Suara Pembaruan

Penulis: H-15

Sumber:Suara Pembaruan