Ilustrasi ujian nasional

Cilegon - Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Banten carut marut. Masih banyak kekurangan terjadi. Seperti, tidak lengkapnya naskah soal, dan kualitas kertas lembar jawaban yang buruk. Tak cuma itu, para siswa pun dibuat kecewa lantaran UN diundur selama sejam dari waktu pelaksanaan.

Salah satunya terjadi di SMPN 5 Kota Cilegon. Sekolah itu, sejatinya, menerima 21 amplop naskah soal. Namun, yang terjadi, pihak sekolah hanya mendapatkan 17 amplop. Guna mengatasi persoalan tersebut, pihak sekolah mau tak mau mem-fotokopi soal untuk menutupi kekurangan.

“Tidak ada cara lain selain mengundur pelaksanaan UN selama satu jam. Selama waktu satu jam tersebut kami dan panitia UN memfotokopi naskah yang kurang tersebut,” ujar Kepala SMPN 5 Cilegon Juhi, di Cilegon, Senin (22/4).

Juhi menjelaskan, selama proses fotokopi, naskah soal ujian dikawal langsung oleh pihak pengawas independen, kepolisian dan kepala sekolah sendiri. "Kebocoran soal tidak mungkin terjadi karena dikawal ketat selama proses fotokopi berlangsung,” jelasnya.

Seorang peserta UN, Fitri mengaku kecewa dengan persoalan ini. "Ketika UN diundur sejam, konsentrasi kami jadi terganggu. Seluruh persiapan menjadi buyar karena kami menunggu selama sejam, sementara sekolah lain sudah mulai mengerjakan soal UN,” ujar Fitri.

Kasus serupa terjadi di Kabupaten Serang, seperti di SMPN 1 Keragilan. Di sekolah itu, selain mengalami kurang naskah, para siswa juga dibuat pusing lantaran hilangnya empat halaman soal. Alhasil, para siswa menjadi terlambat dalam mengerjakan soal.

Ketua Panitia UN SMPN 1 Keragilan, Titin Supriyatin menjelaskan, naskah soal yang tidak lengkap itu ditemukan di ruang 3, 10, 11, dan 13. “Tidak lengkapnya naskah soal itu membuat peserta terlihat khawatir dan cemas. Tapi panitia sudah menenangkan mereka agar tidak cemas. Untuk peserta yang mendapat naskah soal yang tidak lengkap diberi tambahan waktu," katanya.

Titin mengungkapkan, peserta UN di SMPN 1 Kragilan sebanyak 302 orang terdiri atas peserta SMPN 1 Kragilan sebanyak 274 orang dan peserta yang menginduk ke SMPN 1 Kragilan sebanyak 28 orang dari SMPIT Raudhatul Muawannah.

Kepala Seksi Kurikulum SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Serang Elis Yulaeti mengatakan, telah ada Prosedur Operasional Standar (POS) yang telah ditetapkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dalam menghadapi masalah kekurangan naskah soal atau kekurangan lembar jawaban komputer (LJK) yakni dengan memfotokopi naskah soal dan lembar jawaban.

Ada langkah lain juga ketika tidak ada naskah soal atau lembar jawaban yang bisa difotokopi, yaitu peserta mengerjakan soal dan mengisi jawaban di naskah soal yang asli dengan syarat naskah soal itu tidak ada bekas coretan oleh peserta sebelumnya.

"Kita beri perlakuan khusus kepada peserta yang mendapatkan soal tidak lengkap agar mereka tidak dirugikan. Mereka diberi tambahan waktu," ujarnya.

Wakil Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah meminta kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Serang untuk mengawal peserta UN yang mendapatkan soal yang bermasalah.

"Saya berharap segala persoalan yang ditemukan terkait naskah soal UN atau lembar jawaban segera diatasi. Jangan sampai ada siswa yang dirugikan akibat tidak lengkapnya naskah soal," tegasnya.

Suara Pembaruan

Penulis: 149

Sumber:Suara Pembaruan