Ilustrasi eKTP.

Jakarta - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi meminta masyarakat untuk cermat dalam memperlakukan KTP elektronik (e-KTP), karena kartu tanda identitas tunggal tersebut sensitif.

Jika KTP model lama bisa diperlakukan beragam seperti diberi plastik, difoto copy dan lainnya, e-KTP tidak bisa diperlakukan seperti itu. Sebab di dalam e-KTP tertanam chip yang jika diperlakukan ceroboh bisa rusak.

"e-KTP tidak bisa difotocopy dan diperlakukan macam-macam, karena ada chip yang bisa rusak. Terbitnya card reader, e-KTP akan sensitif dibaca," katanya di sela Seminar Pemanfaatan e-KTP dan Perangkat Card Reader untuk Pelayanan Publik di Jakarta, Kamis (2/5).

Saat ini diakuinya pemerintah sudah melampaui target perekaman e-KTP fase pertama yakni 175,2 juta dari target awal 172 juta.

Hingga kini pemerintah masih berusaha keras, karena yang berhak terekam harus mencapai 190 juta, sehingga masih terdapat sekitar 16 juta yang mungkin tinggal di gunung, lembah, pulau-pulau terpencil atau bahkan di kota-kota yang memang tidak mau melakukan perekaman e-KTP.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Dalam Negeri telah memulai program penerapan e-KTP yang dilakukan secara meluas sejak tahun 2011.

Penerapan e-KTP ini memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi terkini, teknologi percetakan dan personalisasi elektronik, teknologi smart card, teknologi biometrik dalam perekaman, identifikasi ketunggalan identitas, basis data kependudukan sosial.

Diharapkan akhir tahun 2013, seluruh penduduk yang telah merekam data biometrik menerima e-KTP.

Sejak awal Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi pun telah melakukan pendampingan teknis uji petik penerapan awal e-KTP di enam daerah sejak tahun 2009.

Suara Pembaruan

Penulis: R-15/FER

Sumber:Suara Pembaruan