Ilustrasi Paket Wisata Korupsi

Jakarta - Koordinator Riset Youth Integrity Survey (YIS) Transparency International Indonesia (TII), Lia Toriana mengatakan bahwa lembaga-lembaga yang mestinya memberikan pelayanan dan proteksi kepada kaum muda, justru marak dengan praktik korupsi dan mencederai kesadaran nilai kaum muda.

"Kita mengalami krisis pendidikan antikorupsi di tengah-tengah perubahan role model dan orientasi konsumsi media anak muda," ujarnya dalam konferensi pers 'Survei Integritas Anak Muda 2012' di Jakarta, Kamis (2/5).

Oleh karena itu, lanjut Lia, pihaknya memberikan rekomendasi kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Menteri Agama agar membenahi sistem pendidikan nasional sehingga mampu membentuk anak-anak muda yang berkatakter dan berintegritas, baik melalui pengembangan bahan ajar, cara ajat dan lingkungan pendidikan yang terbebas dari praktik korupsi.

Ditambahkan, sebaiknya Menteri Pemuda dan Olahraga juga mampu memastikan perbaikan program-program pendidikan kewarganegaraan dan antikorupsi untuk kaum muda.

Gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta juga diharapkan agar mengembangkan program-program yang memungkinkan anak muda di Jakarta memperkuat integritasnya, melibarkan secara kreatif dalam pengawasan pemerintahan dan pemberantasan korupsi.

"Disamping itu, gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta juga diharapkan mampu menjadi role model bagi pemberanyasan korupsi di Jakarta yaitu dengan lebih gigih dalam menekan praktik korupsi di jajaran Pemprov DKI," tegasnya.

Lia juga mengatakan, orang tua juga agar menjadi teladan di dalam keluarga, sehingga perlu memastikan bahwa penghasilan rumah tangga diperoleh dari sumber-sumber yang sah, dan memberikan contoh-contoh kecil bagaimana pentingnya nilai kejujuran.

Sekretaris Jenderal TII, Dadang Trisasongko juga mengatakan, survei TII juga bagian dari agenda TII dimana survei ini jadi bagian membangun strategi kerja ke depan dan strategi untuk menggandeng anak muda.

"Bahkan politisi muda sekarang juga banyak tersangkut kasus korupsi. Ini juga sangat memprihatikan kita. Pembelajaran ke depan mesti menjadi refleksi bersama, keluarga seperti apa yan akan dibangun. Survei ini menggambarkan sebenarnya tidak mudah dalam sebuah negara yang sistem sosialnya cenderung korup," tuturnya.

Sebelumnya YIS TII melansir survei bahwa anak muda memiliki peran yang penting untuk melawan korupsi. Sebanyak 78 persen responden anak muda setuju bahwa berlaku jujur lebih penting daripada menjadi kaya, dan 68 persen responden percaya bahwa peluang sukses lebih banyak dimiliki oleh orang yang jujur dan berintegritas.

Lebih lanjut, dalam survei tersebut dipaparkan, ketika dalam kondisi yang abu-abu, ada kecenderungan permisif dari responden terhadap sikap tersebut. Hampir 30 persen anak muda menganggap bahwa kesediaan untuk melakukan pelanggaran hukum ketika hal tersebut merupakan bentuk solidaritas dan dukungan bagi keluarga dan teman-teman, tetap merupakan ciri orang yang berintegritas.

Dari kesadaran anak muda mengenai peran mereka dalam pemberantasan korupsi, hasil survei menunjukkan 62 persen anak muda menganggap bahwa anak muda memiliki peraan yang penting dalam membangun integritas dan antikorupsi.

Namun, 47 persen responden anak muda tidak melakukan pengaduan ketika berhadapan dengan kasus korupsi dengan berbagai alasan. Pertama karena mereka berpikir ini "bukan urusan saya" yakni sebanyak 36 persen.

Kedua karena mereka menganggap tidak efektifnya pengaduannya, yankin 32 persen responden menyatakan hal tersebut, serta alasan ketiga karena adanya anggapan bahwa tidak ada perlindungan ketika melakukan pengaduan sebanyak 19 persen.

Sedangkan dari sisi sumber informasi dan pengaruh lingkungan mengenai integritas dan antikorupsi, sebagian besar responden, 37 persen anak muda, merasa memiliki informasi yang sangat sedikit tentang korupsi dan integritas. Bahkan ada 13 persen respomde anak muda yang merasa bahwa mereka sama sekali tidak memiliki informasi tentang aturan pemerintah dan regulasi yang mempromosikan dan mencegah korupsi. 32 persen anak muda yang merasa memiliki informasi dan 18 persen punya banyak info tentang anti korupsi.

Ditambahkan, survei ini juga menempatkan sistem pendidikan, sekolah maupun kampus, keluarga dan kelompok sebaya sebagai institusi yang palinh berpengaruh dalam pembentukan watak dan perilaku kaum muda. Sementara televisi sebagai media yang paling berpengaruh diikuti berita internet dan media sosial.

Meskipun hanya 18 persen kaum muda yang merasa informasi tentang regulasi antikorupsi memadai, sementara sisanya merasa informasi terbatas atau tidak ada.

Suara Pembaruan

Penulis: WIN

Sumber:Suara Pembaruan