Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Denny Indrayana memberikan keterangan kepada wartawan terkait penyerangan terhadap Lembaga Pemasyarakatan Sleman di kantor Kemenkum dan HAM, Jakarta,

Jakarta - Pakar hukum pidana Yenti Garnasih menilai, kualitas aparatur penegak hukum yang sekarang ini cenderung memburuk berimbas pada ketidakpatuhan masyarakat. Aksi penegak hukum yang sering mempermainkan hukum membuat masyarakat skeptis akan tegaknya hukum.

Hal itu dikatakan Yenti dalam diskusi bertema "Kepatuhan Terhadap Hukum" yang diadakan oleh Kelompok Lintas Hukum, Forum Indonesia, dan Koalisi Masyarakat Sipil, di Jakarta, Senin (6/5).

"Mereka (masyarakat) tidak lagi menghormati penegak hukumnya. Artinya, kewibawaan penegak hukum dipertanyakan. Justru orang-orang yang harusnya patuh hukum dia membolak-balikan hukum, tidak berpikir bagaimana masyarakat melihat hukum itu sekarang ini," kata Yenti.

Menurutnya, Kepolisian, Kejaksaan, KPK, pengadilan, dan Lembaga Pemasyarakatan (LP) tidak memberi contoh yang positif kepada masyarakat. Orang-orang yang ditersangkakan tidak merasa malu tampil dihadapan publik bahkan, seseorang yang telah berstatus terpidana dapat diusung sebagai calon legislatif.

Dikatakan, salah satu faktor penyebab ketidakpatuhan terhadap hukum sebagai penyakit sosial bukan hanya kualitas aparat penegak hukum saja melainkan, substansi hukum yang "amburadul". Undang undang sebagai produk legislatif justru tidak menimbulkan kepastian hukum.

"Masyarakat lebih baik dibandingkan undang-undangnya yang belakangan dibuat tidak cermat. Namun yang paling menurun adalah penegakan hukumnya, komponen integrated sistem yakni, lembaga-lembaga penegak hukumnya seperti polisi, jaksa, KPK, pengadilan, pengacara hingga, pemasyarakatan, rusak semuanya," katanya.

Suara Pembaruan

Penulis: E-11/YUD

Sumber:Suara Pembaruan