Wakil Gubernur Banten, Rano Karno.

Serang - Kelompok marching band yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten melalui Biro Umum Pemprov Banten, pada tanggal 19 Juli 2013 mendatang akan berangkat ke Den Haag, Belanda, untuk mengikuti kontes marching band internasional. Anggaran yang dihabiskan untuk mengikuti lomba ini mencapai Rp4 miliar yang diambil dari APBD Banten 2013.

Disebutkan, marching band yang diberi nama Gita Surosowan Banten ini merupakan perwakilan Indonesia untuk mengikuti kontes tingkat internasional di Belanda. Namun kendati Marching Band Gita Surosowan Banten ini terpilih mewakili Indonesia, seluruh anggaran ditanggung oleh Pemprov Banten melalui APBD 2013, sementara pemerintah pusat tidak membantu sama sekali terkait anggaran.

Sehubungan dengan itu, oleh berbagai kalangan di Banten, anggaran yang cukup fantastis itu dinilai sebagai penghamburan dana APBD. Karenanya, kalangan budayawan di Banten pun meminta Pemprov untuk bersikap transparan dalam mengelola anggaran tersebut.

Pengamat kebijakan pemerintah sekaligus budayawan Banten, Purwo Rubiono, meminta Pemprov Banten untuk transparan dalam mengelola keuangan daerah. Terutama dalam hal ini kebijakan Pemprov Banten yang menganggarkan Rp4 miliar untuk kegiatan musik di Den Haag, Belanda mendatang.

"Prestasi yang diraih Marching Band Gita Surosowan Banten patut kita dukung. Namun, yang menjadi pertanyaan, anggaran Rp4 miliar untuk kontes di Belanda ini sangat fantastis. Karena itu, kita perlu meminta Pemprov Banten untuk bersikap transparan dalam menggunakan anggaran dimaksud," tegas Purwo, di Serang, Senin (6/5).

Purwo menyatakan, anggaran sebesar Rp4 miliar itu patut dicurigai, jika hanya diperuntukkan bagi pembiayaan anggota marching band. Purwo mencurigai adanya kelompok tertentu yang memanfaatkan momen kontes marching band di Belanda itu untuk pelesiran.

"Masyarakat Banten perlu mengawasi keberangkatan para anggota Marching Band Gita Surosowan Banten ke Belanda. Ini dilakukan agar tidak ada pihak lain yang tidak berkepentingan ikut memanfaatkan kesempatan yang ada untuk sekadar jalan-jalan dan menghabiskan anggaran dari APBD Banten," tegasnya.

Untuk diketahui, keberangkatan kelompok Marching Band Gita Surosowan Banten itu adalah untuk mengikuti lomba Marching Parade World, Marching Contest and Show Band World Division, serta Percussion Ensemble. Rombongan dari Banten yang bakal berangkat ke Belanda mencapai 185 orang, meliputi field comander 2 orang, (pemain) trumpet 20 orang, mellophone 12 orang, baritone 8 orang, euphonium 12 orang, tuba 12 orang, snare drum 7 orang, bass drum 5 orang, multitom 3 orang, cymbal 5 orang, pit instrument 12 orang, colour guard 20 orang, aradeya 11 orang, perlengkapan 38 orang, bagian kesehatan 1 orang, dokumentasi 2 orang, pelatih 7 orang, pembina 3 orang, ketua harian 1 orang, sekretaris 1 orang, penanggung jawab 1 orang, serta pelindung yaitu Gubernur dan Wakil Gubernur Banten 2 orang.

Sekretaris Umum Marching Band Gita Surosowan sekaligus Kepala Bagian Rumah Tangga pada Biro Umum Pemprov Banten, Yadi Mulyadi mengatakan, anggaran Rp4 miliar untuk lomba marching band di Den Haag tersebut merupakan angka total akomodasi selama latihan, hingga berada di Belanda dan biaya untuk pulang ke Indonesia.

"Untuk tiket 185 orang saja menghabiskan anggaran sekitar Rp2 miliar lebih. Selebihnya (untuk) latihan persiapan selama hampir sebulan, dan akomodasi selama berada di Belanda nanti," katanya.

Yadi mengatakan bahwa pada dasarnya anggaran sebesar Rp4 miliar itu sangat proporsional. Lagi pula menurutnya, untuk kepentingan mendukung prestasi kelompok marching band milik Pemprov Banten, anggaran sebesar itu sebenarnya sangat wajar.

"Kami menganggap ini penting didukung. Apalagi kegiatan ini untuk membawa nama baik Provinsi Banten dan Indonesia. Karena itu, kami meminta semua pihak untuk mendukung kegiatan ini," ujarnya.

Sebelumnya, Wakil Gubernur Banten, Rano Karno menyatakan, dalam kontes marching band di Belanda nanti, akan ada kolaborasi dengan alat musik tradisional Banten yakni angklung buhun (alat musik Baduy). Namun nyatanya, berdasarkan data rombongan yang bakal berangkat, tidak satu pun pemain angklung atau peralatan musik tradisional Banten yang diikutsertakan.

 

Suara Pembaruan

Penulis: 149

Sumber:Suara Pembaruan