Pengunjung menjalani pemeriksaan sebelum menjalani tes urine dalam razia narkoba yang digelar tim gabungan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DKI Jakarta dibantu aparat Provost dan POM TNI AD di diskotik Stadium, Taman Sari, Jakarta Barat.

Jakarta - Menyusul penangkapan seorang komandan Angkatan Laut karena narkoba, sebanyak 66 prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) dilatih menjadi kader anti-narkotika.

Mereka berasal dari enam direktorat yang ada di lingkungan TNI AD, yakni Direktorat Peralatan, Direktorat Kesehatan, Direktorat Keuangan, Direktorat Intelijen, Direktorat Dinas Bimbingan Mental, Direktorat Sekolah Tinggi Hukum Militer.

Direktur Advokasi Bidang Pencegahan dr Victor Pudjiadi berharap dengan adanya pelatihan kader anti-narkoba ini akan semakin banyak masyarakat khususnya anggota TNI AD yang bersama-sama ikut berperan aktif dalam Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) di lingkungan masing-masing untuk mewujudkan Indonesia bebas narkoba.

"Inpres nomor 12 tahun 2011 tentang pelaksanaan Kebijakan dan Strategi Nasional P4GN bidang Pencegahan, dikemukakan bahwa fokus bidang Pencegahan adalah menjadikan para pekerja memiliki pola pikir, sikap yang tegas, dan berani untuk menolak penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba baik di lingkungan kerja maupun lingkungan tempat tinggalnya," kata Victor saat memberikan materi dalam pelatihan Kader Anti-Narkoba di Lingkungan Instansi Pemerintah, di Hotel Gran Alia, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Selasa (7/5).

Para prajurit ini diberi pengetahuan mengenai bahaya narkotika, pencegahan peredaran, hingga tahapan rehabilitasi yang dijalani oleh para pecandu atau penyalahguna narkotika. Kasubdit Instansi Pemerintah Direktorat Advokasi Deputi Bidang Pencegahan BNN, Edhie Mulyono mengatakan, sebelum membentuk kader di enam direktorat ini, pihaknya juga sudah menggelar kegiatan serupa seperti di Direktorat Zeni TNI AD (Ditziad). Rencananya, kegiatan serupa akan dilakukan untuk pasukan marinir dan anggota kepolisian.

"Nanti kami akan bekerjasama dengan Pasukan Marinir dan bulan Juni untuk anggota kepolisian, terutama yang di Polres dan Polsek," katanya.

Edhie mengatakan, pembantukan kader anti-narkotika di kalangan para aparat ini dilakukan agar mereka dapat menjadi relawan yang dapat menyebarluaskan dan mengajak anggota lainnya untuk menolak narkotika. Dengan kewenangan dan senjata yang dimiliki, menurut dia, anggota TNI dan Polri menjadi rentan untuk digoda oleh bandar narkoba untuk memperlancar bisnis haram mereka.

"Dengan kewenangan yang mereka miliki, jangan sampai ada oknum TNI atau Polri yang justru memperlancar peredaran gelap narkoba," katanya.

Seperti diketahui beberapa waktu lalu, Kolonel ASB, Komandan Pangkalan Angkatan Laut (Danlanal) Semarang yang ditangkap Badan Narkotika Nasional (BNN) saat mengonsumsi narkotika jenis sabu di sebuah hotel di Semarang, Jawa Tengah. Kasus ini menjadi bukti peredaran narkotika sudah merambah berbagai elemen masyarakat, termasuk aparat penegak hukum, seperti TNI dan Polri.

Untuk itu, upaya pencegahan peredaran gelap dan penyalahgunaan narkotika tidak hanya dilakukan kepada masyarakat sipil, tetapi juga instansi pemerintah dan aparat.

Suara Pembaruan

Penulis: F-5/FMB

Sumber:Suara Pembaruan