Ilustrasi longsor

Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan sebanyak 124 juta jiwa masyarakat Indonesia hidup didaerah rawan longsor. Oleh karena itu, masyarakat diimbau waspada, salah satunya dengan mengenali ciri daerah rawan longsor.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, menyebutkan, salah satu ciri daerah rawan longsor tersebut antara lain daerah berbukit dengan kelerengan lebih dari 20 derajat dengan lapisan tanah tebal di atas lereng.

"Selain itu sistem tata air dan tata guna lahan yang kurang baik, lereng terbuka atau gundul, dan terdapat retakan tapal kuda pada bagian atas tebing," ujarnya, Senin (13/5).

Ciri daerah rawan longsor juga ditandai dengan banyaknya mata air atau rembesan air pada tebing disertai longsoran-longsoran kecil dan adanya aliran sungai di dasar lereng.

"Pembebanan berlebihan pada lereng, karena adanya bangunan dan pemotongan tebing untuk pembangunan rumah atau jalan juga dapat memicu longsor," kata Sutopo.

Selain melihat ciri-ciri wilayah yang rawan longsor, ia juga menyebutkan, upaya untuk mengurangi potensi terjadinya tanah longsor. Di antaranya adalah dengan menutup retakan pada atas tebing dengan menanami lereng dengan tanaman, serta memperbaiki tata air dan lahan.

"Kewaspadaan terhadap mata air atau rembesan air pada lereng, dan waspada pada saat curah hujan yang tinggi pada waktu yang lama juga dapat meminimalisir dampak dari bencana tanah longsor tersebut," imbuh Sutopo.

Sedangkan, untuk langkah awal yang dilakukan untuk menghadapi bencana longsor, Sutopo menambahkan, proses evakuasi harus segera dilakukan setelah diketahui tanda-tanda akan terjadi longsor.

"Karena longsor terjadi pada saat yang mendadak, evakuasi penduduk segera setelah diketahui tanda-tanda tebing akan longsor," kata Sutopo.

Setelah itu, segera hubungi pihak terkait dan lakukan pemindahan korban dengan hati-hati. Segera lakukan pemindahan penduduk ke tempat yang dirasa cukup aman dari longsor.

Investor Daily

Penulis: RIS

Sumber:Investor Daily