Calon gubernur-wakil gubernur  Puspayoga (kedua kiri)-Sukrawan (kiri)

Denpasar - Hitung cepat (quick count) pemilihan umum Gubernur (Pilgub) Bali 2013-2018 versi Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC), pasangan nomor urut 1 Puspayoga-Sukrawan (PAS), unggul tipis dengan pasangan Pastika-Sudikerta (Pasti Kerta).

Pasangan yang diusung PDIP ini unggul dengan raihan 50,31 persen suara, sedangkan pasangan yang diusung koalisi partai politik ini 49,69 persen.

PDIP pun menyambut dengan suka cita kemenangan Puspayoga tersebut, meski hanya dengan angka tipis. Hal itu tentu menjadi harapan buat PDIP setelah tumbang di Pilkada Jabar dan Sumut dalam pemilihan Gubernur dan Wakil gubernur beberapa waktu lalu.

Ketua DPD PDIP Bali, Anak Agung Oka Ratmadi, Rabu (15/5) mengatakan, raihan suara di Pilgub Bali ini sekarang berdasarkan quick count 50 persen lebih. Sedangkan suara PDIP 40 persen di Bali di pemilu legislatif.

“Artinya bahwa suara PDI Perjuangan di Bali itu solid. Kami mendapatkan dukungan suara lebih dari 50 persen rakyat Bali, ini quick count, meskipun belum real count ya," katanya.

Oka Ratmadi yang akrab dipanggil Tjok Rat mengatakan, pihaknya tidak terlalu merisaukan berapa jumlah kemenangan pasangan PAS, tetapi yang lebih penting adalah mampu mengungguli saingannya. “Kami kan dikeroyok koalisi partai yang dimotori Golkar dan Demokrat. Toh masih mampu menang, sehingga patut disyukuri,” tegas Tjok Ratmadi yang juga Ketua DPRD Bali.

Sebaliknya Calon Gubernur Puspayoga usai perhitungan suara, tidak mau banyak komentar terkait hasil hitung cepat yang sudah diumumkan SMRC. “Sudahlah, kalau memang begitu hasilnya, saya hanya bisa bersyukur. Saya menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Bali yang telah memberikan kepercayaan kepada saya dalam proses pencoblosan,” ujarnya.

Puspayoga sendiri setelah melakukan pencoblosan di TPS langsung melakukan pemantauan keliling dan sempat bersama Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri berangkat bersama menuju kantor DPD PDIP di kawasan Renon, Denpasar. “Maaf saya tidak bisa memberikan keterangan dulu, karena masih ada tugas ke kantor DPD sama Ibu Mega,” ujar Puspayoga bergegas meninggalkan Puri Satrya.

Tegang
Sementara itu, sebelum ada berita resmi dari hasil Quick Count SMRC, pendukung Puspayoga yang langsung menyaksikan hasil perhtungan lewat menonton TV sempat dibuat tegang. Apalagi kejar-kejaran angka terus terjadi dan bahkan sempat Pastika unggul, sehingga membuat mereka tegang. Bahkan ada yang mengaku badannya panas dingin karena tegang menonton TV.

Ketegangan bahkan memuncak ketika berdasarkan hasil quick count Indonesia Research Center (IRC), yang ditayangkan RCTI pasangan Pastika-Sudikerta justru dikatakan menang dengan memperoleh suara 50,01 persen. Sedangkan pasangan Puspayoga-Sukrawan memperoleh 49,99 persen. Hal itu kontan membuat pendukung Puspayoga tersentak seperti tidak percaya.

Ketegangan menjadi cair ketika dua stasiun TV yakni Indosiar dan SCTV menyampaikan hasil Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) kalau pasangan PDIP ini unggul dengan raihan 50,31 persen suara. Sedangkan pasangan Pastika yang diusung koalisi partai politik ini meraih 49,69 persen. “Wah untung aja swebagaian besar TV menyatakan menang jago kami menang. Kaki saya tidak lagi gemetar,” ujang Erwin salah seorang pendukung setia Puspayoga.

Yang menarik lagi, untuk lumbung suara di permukiman komunitas muslim di Dusun Wanasari, Kelurahan Dauh Puri Kaja, pasangan Puspayoga-Sukrawan (PAS) menang telak dalam perebutan suara di wilayah muslim. Perolehan suara pasangan yang diusung PDIP dan dengan dukungan PKS itu jauh meninggalkan perolehan suara Pastika- Sudikerta (Pasti-Kerta).

Data yang dihimpun dari lima TPS di dusun yang dikenal sebagai 'Kampung Jawa' itu, Puspayoga-Sukrawan meraih 1.336 suara, sedangkan Pastika-Sudikerta hanya 186 suara. Sementara suara tidak sah di permukiman muslim di jantung Kota Denpasar itu hanya 26. “Kami menargetkan kemenangan Puspayoga-Sukrawan di permukiman muslim mencapai 75 persen dari suara sah,” ujar Ketua DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Provinsi Bali, Mudjiono.

Dia juga menyayangkan adanya selebaran gelap yang mendiskreditkan Puspayoga tentang Islamisasi di Bali, dua hari menjelang pilkada. "Tuduhan itu sangat menyakitkan bagi kami. Selama ini umat Islam di Bali tahu diri dengan mekanisme dan peraturan pembangunan tempat ibadah sehingga keberadaan mereka seakan-akan membebani," kata anggota DPRD Kota Denpasar itu.

Mudjiono menegaskan, dukungan terhadap Puspayoga-Sukrawan tidak disertai tuntutan atau kompensasi politik apa pun. "Pak Puspayoga paling sering mendatangi acara-acara keagamaan. Bahkan pada bulan puasa, beliau paling enak diajak buka bersama berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya," tutup Mudjiono.

Suara Pembaruan

Penulis: 137

Sumber:Suara Pembaruan