Bencana Longsor Makin Sering Terjadi di Sekitar Danau Toba

Bencana Longsor Makin Sering Terjadi di Sekitar Danau Toba
Danau Toba, Sumatera Utara ( Foto: Antara )
Noinsen Rumapea Rabu, 15 Mei 2013 | 21:15 WIB

Jakarta - Fungsi vital Hutan Tele di Desa Partungkot Nagijang dan Hariara Pintu, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara (Sumut) kini makin terkikis. Perambahan hutan yang menjadi-jadi menyebabkan bencana longsor makin sering terjadi di sekitar Danau Toba.

Hutan Tele, yang sebelumnya merupakan Hutan Register 41 dan hutan adat milik marga-marga yang berada di sekitar areal hutan, makin leluasa dirambah sejak Pemkab Samosir, berdasarkan TGHK dan SK Menhut 44/2005, mengubahnya menjadi Areal Penggunaan Lain (APL).

“Sudah berulang kali terjadi bencana longsor dan banjir akibat penebangan hutan, yang menimbulkan korban jiwa. Padahal sebelumnya, tak ada sejarahnya terjadi longsor dan banjir di kawasan sekitar Danau Toba,” kata Ketua Pengurus Forum Peduli Samosir Nauli (Pesona), Rohani Manalu seusai audiensi dengan staf Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan di Jakarta, Rabu (15/5).

Pesona terdiri dari beberapa komponen masyarakat, mahasiswa, dan LSM, yang peduli dengan kelestarian hutan dan lingkungan. Pesona bersama sejumlah petani di sekitar hutan dan warga Medan dan Jakarta, yang kampung halamannya berada di sekitar Danau Toba, menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Kementerian Kehutanan dan KLH di Jakarta, guna memperjuangkan kelestarian Danau Toba.

Sangat Vital
Dikatakan, selama ini Hutan Tele memiliki fungsi yang sangat vital, sebagai salah satu hutan penyangga Danau Toba, yang di dalamnya masih terdapat berbagai tegakan pohon hingga diameter dua meter.

“Di sana terdapat berbagai spesies flora dan fauna, yang beberapa di antaranya adalah spesies langka yang harus dilindungi, seperti angrek hartinah/cymbidium hartina hianum, tumbuhan endemik yang habitat alaminya hanya ada di Hutan Tele,” kata Fernando Sitanggang, Sekretaris Pesona.

Hutan Tele katanya, merupakan daerah resapan/tangkapan air, yang menjadi sumber air dan irigasi bagi masyarakat di beberapa Kecamatan.

“Dan yang lebih penting, di kaki bukti Hutan Tele terdapat perkampungan-perkampungna penduduk. Dengan adanya tindakan pengrusakan/penebangan Hutan Tele akan berdampak luas terhadap lingkungan, ekosistem, dan berkenjutan hidup masyarakat di sekitar Hutan Tele. Karena daerah ini sangat rentan dengan bahaya longsor dan banjir,” kata Mangaliat Simarmata, pengacara di Kota Medan, yang turut mendukung perjuangan warga.

 

Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE