Sejumlah petugas polisi membersihkan dan memperbaiki pos polisi lalu lintas yang dirusak mahasiswa HKBP Nommensen, di kawasan Jalan Perintis Kemerdekaan Medan, Sumut, Kamis (16/5).

Medan - Wakil Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Wakapoldasu), Brigjen Basaruddin menyatakan, demo mahasiswa Universitas Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Nommensen di persimpangan Jl Perintis Kemerdekaan dan Jl Gaharu Medan, Sumatera Utara (Sumut), sudah anarkis.

"Mereka merusak fasilitas umum dan menghancurkan pos polisi berikut rambu lalu lintas. Demo itu juga mengganggu ketertiban umum. Ini sudah melanggar hukum dan polisi tidak mentolerir tindakan anarkis tersebut," ujar Basaruddin di lokasi pengamanan, Kamis (16/5).

Basaruddin mengatakan, pihaknya sudah meminta mahasiswa yang melakukan aksi demo tersebut, untuk membubarkan diri. Sayangnya, mahasiswa tidak mengindahkan saran petugas di lapangan. Bahkan, mahasiswa sempat mengejar tiga orang polisi saat melintas di lokasi.

"Silakan berdemo asal dilaksanakan dengan tertib dan tidak mengganggu kenyamanan masyarakat. Demo kemarin itu sangat disesalkan, mahasiswa melakukan pengrusakan fasilitas umum. Arus lalulintas pun mengalami kemacetan yang parah akibat demo itu," ungkapnya.

Basaruddin menyampaikan, ada beberapa orang yang diamankan dari lokasi bentrokan tersebut. Mereka yang diamankan itu meliputi mahasiswa dan warga setempat. Polisi masih melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diamankan tersebut.

Tidak hanya ke polisi, bentrokan mahasiswa dengan masyarakat juga terjadi, Rabu (15/5) malam. Masyarakat dan mahasiswa saling melempar batu. Warga menuding mahasiswa berbuat anarkis.

"Mereka selalu berbuat sesukanya jika melakukan demo. Selain merusak fasilitas umum, mahasiswa selalu memblokir jalan. Kasihan pengendara yang hendak melintas, terjebak di tengah kemacetan akibat ulah mahasiswa tersebut. Ini yang membuat kami geram," ujar warga setempat, Anto (36).

Menurutnya, setiap berdemo selalu mengganggu ketenangan masyarakat. Warga sudah berusaha meminta untuk melakukan demo dengan tertib, namun tidak digubris.

Informasi yang diperoleh Suara Pembaruan, gesekan mahasiswa dengan polisi berawal dari dugaan tindak penganiayaan terhadap dua orang mahasiswa oleh oknum polisi pada akhir pekan lalu. Salah seorang di antaranya tewas setelah menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Umum (RSU) Sari Mutiara Medan.

Korban tewas adalah Juliansen Ginting (23) warga Jl Jamin Ginting, Gang Saudara kawasan Padang Bulan Medan. Saat kejadian, korban bersama dengan Natal Efekli Susanto (22) warga Jl Sutomo. Keduanya merupakan mahasiswa di Nommensen. Natal Efekli juga dilaporkan terluka.

Mahasiswa merasa keberatan dan menuntut polisi mengusut kematian rekannya. Namun berdasarkan laporan perwira polisi, Juliansen dan Natal mengalami kecelakaan tunggal. Tidak ada penganiayaan.

Suara Pembaruan

Penulis: 155/WBP

Sumber:Suara Pembaruan