Ratusan pekerja tambang PT. Freeport Indonesia berkumpul di Mile 72 menunggu kepastian nasib rekan mereka yang tertimbun longsor di Terowongan Big Gossan, Tembagapura, Timika, Papua.

Jayapura - Sebanyak 23 karyawan PT Freeport Indonesia (PTFI) yang tertimbun di terowongan yang merupakan fasilitas pelatihan tambang bawah tanah Big Gosan, Tembagapura, Timika Papua, sejak Selasa (14/5) lalu, belum diketahui nasibnya hingga kini. Anggota tim penyelamat PTFI telah berhasil membuka dua akses masuk menuju lokasi insiden yang dapat digunakan sebagai jalan alat berat untuk mempercepat proses penyelamatan.

Tim penyelamat, yang terdiri dari 60 ahli penyelamat yang paling berpengalaman dalam hal kegiatan bawah tanah, saat ini sedang menjalankan operasi penyelamatan dan pemulihan dengan terus memperhatikan aspek keamanan.

“Tim kini sedang bekerja dengan penuh ketelitian untuk melakukan evakuasi terhadap 23 pekerja yang saat ini masih terperangkap dalam reruntuhan. Sejauh ini, belum ada perkembangan terbaru terkait nasib karyawan yang dipercaya tertimbun reruntuhan. Ada 38 pekerja, 10 pekerja selamat, 5 meninggal dan 23 belum diketahui kabarnya,” kata Vice President Corporate Communication, Daisy Primayanti dalam siaran pers yang diterima wartawan Suara Pembaruan di Jayapura, Papua, Jumat (17/5) malam.

Diungkapkan, telah terjadi kesimpangsiuran informasi pascaruntuhnya terowongan, sehingga terjadi kesalahan penghitungan jumlah pekerja yang terperangkap. Tim penyelamat pada awalnya menganggap terdapat 39 pekerja yang terperangkap di dalam reruntuhan, namun kemudian diketahui salah satu di antara pekerja berhasil meloloskan diri tanpa terluka

Sementara itu, Presiden Direktur PTFI, Rozik B Soetjipto telah mengunjungi keluarga pekerja yang terkena musibah di Big Gosan dan menyampaikan perkembangan terkini terkait upaya penyelamatan. Kondisi 10 pekerja yang berhasil diselamatkan sudah mulai stabil. “Kami terus memberikan doa dan dukungan untuk rekan-rekan kami yang masih terperangkap dalam reruntuhan dan yang sedang cedera,” kata Rozik.

Runtuhnya sebagian terowongan di area fasilitas pelatihan Big Gosan yang letaknya jauh dari lokasi pertambangan aktif, diperkirakan tidak akan berdampak signifikan terhadap kegiatan operasional perusahaan.

Secara terpisah, anggota DPR asal Papua, Diaz Gwijangge meminta PTFI bertanggung jawab penuh atas kejadian yang menimpa pekerja tambang emas itu.“ Freeport Indonesia harus bertanggung jawab dan tidak lepas tangan atas musibah yang menimpa para pekerja di tambang emas itu,” ujarnya, Sabtu (18/5) pagi.

Dikatakan, selama ini Freeport hanya mengejar keuntungan tanpa mempedulikan keselamatan karyawan dalam bekerja. “Pokoknya mereka semua harus dievakuasi, jangan pakai alasan-alasan. Dunia sedang memperhatikan kejadian ini,” tegasnya.

Suara Pembaruan

Penulis: 154/AB

Sumber:Suara Pembaruan