Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya (tengah) didampingi Chairman Artha Graha Network Tomy Winata (kanan) saat melakukan kunjungan kerja di Konservasi Hutan Tambling, Lampung Barat, Selasa (28/5)

Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memberi apresiasi terhadap komitmen dan kerja keras Artha Graha Peduli (AGP) dalam menyelamatkan dan memelihara hutan konservasi Tambling (Tambling Wildlife Natural Conservation) di Lampung Barat

"Tambling sebuah pekerjaan luar biasa. Pemeliharaan lingkungan di sini lengkap mulai dari konservasi satwa, flora sampai pada pemberdayaan masyarakat. Ini menjadi contoh nyata dan prototype yang bisa dilaksanakan di provinsi lain. Kalau diekpos dengan baik, ini menjadi jawaban atas pertanyaan dunia terhadap Indonesia dalam menjaga lingkungan," kata Menteri Lingkungan Hidup, Balthasar Kambuaya, saat melakukan kunjungan kerja ke hutan konservasi Tambling, Selasa (28/5) siang.

Menurutnya, konservasi hutan Tambling menjadi suatu bukti pertangungjawaban Indonesia kepada dunia dalam melestarikan lingkungan.

Mantan rektor Universitas Cendrawasih Jayapura tersebut menghimbau dan sekaligus mengajak pengusaha nasional untuk ikut serta dalam pelestarian lingkungan hidup seperti yang dikerjakan oleh Artha Graha Network (AGN) di Tambling.

Ia menambahkan, peran pengusaha nasional masih rendah dalam ikut melestarikan dan menjaga lingkungan

"Saya mendorong pengusaha lain untuk mau seperti Tomy Winata agar ada keseimbangan dalam aspek ekonomi dan lingkungan. Saat membuka usaha, mereka harus mempunyai kepedulian terhadap lingkungan,” tuturnya.

Ia mengharapkan ada aturan hukum yang mewajibkan pengusaha untuk menyediakan lahannya untuk konservasi alam dan pelestarian lingkungan. Jika tidak, pengusaha tersebut bisa dikenakan sanksi pidana.

Sementara itu, Chairman Artha Graha Network (AGN), Tomy Winata, mengatakan konservasi Tambling sebagai bukti keseriusan pihaknya dan Indonesia dalam ikut mencegah pemanasan global. Dia tidak mau masyarakat dunia terus mencap Indonesia sebagai negara perusak lingkungan.

Disinggung tentang dana yang telah digelontorkannya untuk membantu konservasi Tambling, Tomy mengakui cukup besar. Namun dia tidak pernah mempersoalkan berapa biaya yang telah dikeluarkannya. ”Soal dana bagi saya tidak menjadi masalah. Ini sama seperti kita berkorban untuk ibu kandung yang melahirkan kita,” katanya.

Namun demikian ia mengharapkan seluruh elemen baik pemerintah, pengusaha maupun masyarakat mau ikut serta menjaga kelestarian alam. Jika dikelola dengan baik, selain bisa membuka lapangan pekerjaan, juga melestarikan alam untuk masa depan.

Tommy mengakui, pengusaha yang peduli dengan penyelamatan lingkungan masih sedikit. "Ini yang harus kita dorong terus agar lebih banyak pengusaha yang peduli lingkungan. Kita harus berpikir jauh ke depan untuk memikirkan masa depan generasi kita mendatang yang lebih baik, bukan hanya generasi sekarang saja,” katanya.

Seperti diketahui, Artha Graha Network (AGN) untuk kesekiankalinya mewujudkan program Corporate Social Responsibility (CSR) dalam bentuk usaha penyelamatan lingkungan hidup melalui Artha Graha Peduli (AGP).

Kali ini, program AGP itu berbentuk kunjungan ke area konservasi yang dikelola AGP, yakni Tambling Wildlife National Conservation (TWNC), Lampung. Acara ini dimaksudkan untuk memperlihatkan keseriusan pihak Indonesia, pemerintah maupun swasta, dalam menjaga kelestarian hutan.

TWNC merupakan bagian dari Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang dikelola secara bersama antara Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dan AGP. Di lokasi yang memiliki visi Keberlanjutan Alam untuk Keberlangsungan Kehidupan ini, memang terdapat keanekaragaman hayati yang kaya.

Selain buaya dan harimau, sebut saja badak sumatera, gajah sumatera, kerbau liar, beruang madu, kijang, rusa, kancil, siamang,landak, hingga penyu. Kekayaan fauna itu sangat ditunjang habitatnya yang masih sangat terpelihara, seperti hutan hujan dataran rendah, hutan rawa, mangrove, padang rumput, Danau Sei Leman, dan pantai pasir putih.

Suara Pembaruan

Penulis: M-17/AF

Sumber:Suara Pembaruan