Ilustrasi pengiriman batubara.

Jakarta - Indonesia termasuk dalam negara pengekspor terbesar batubara meski hanya mempunyai cadangan batubara sebesar 28 miliar ton atau sekitar 3% dari cadangan dunia. Akan tetapi peringkat ini tidak bisa membuat Indonesia mampu mengontrol harga batubara di pasar Internasional.

"Indonesia pengekspor batubara terbesar tapi harga diatur oleh mekanisme harga pasar global. Ini sangat merugikan Indonesia," kata Sekretaris Umum Asosiasi Pemasok Energi dan Batubara Indonesia (Aspebindo), Ekawahyu Kasih, ditemui usai acara diskusi di sekretariat Hipmi, di Jakarta, Rabu (29/08).

Ekawahyu mengatakan pemerintah bersama perusahaan seharusnya melakukan riset mengenai besaran biaya ekspor yang dilakukan oleh negara penghasil batubara. Dengan begitu harga batubara yang diekspor Indonesia bisa lebih murah lantaran letak geografis Indonesia mudah menjangkau negara tujuan ekspor yakni China dan India.

"Misalkan harga mereka 100 dollar maka kita cukup 95 dollar saja. Ini sudah untung banyak dan mereka tidak bisa berkompetisi dengan kita. Dengan begitu kita bisa atur harga," paparnya.

Setelah melakukan riset itu, lanjut Ekawahyu, Indonesia dapat menurunkan ekspor batubara sekitar 20% tapi harga komoditas ini dinaikkan 20%. Dengan demikian pendapatan negara tidak berkurang tetapi kesinambungan batubara semakin panjang. Menurutnya jika tidak ada pembatasan ekspor batubara maka diperkirakan komoditas ini akan habis dalam waktu 60 tahun ke depan.

-

Penulis: Rangga Prakoso/AF