Ilustrasi logo Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Jakarta - Peneliti senior dari Indonesian Public Institue Karyono Wibowo mengatakan, PDI Perjuangan (PDIP) memang memiliki gaya tersendiri dalam menyusun strategi pilkada.

Hal itu bisa dilihat pada pilkada di beberapa daerah. Mulai dari pilkada DKI, Jabar, Sumut, NTT, Bali, Jateng yang sudah berlangsung dan Jatim serta Sumatera Selatan (Sumsel) yang akan berlangsung.

“Nampak pola dan strategi PDIP adalah bertekad mendorong kader sendiri untuk maju di pilkada. Hal itu dilakukan karena berawal dari pengalaman pahit tatkala mendukung calon kepala daerah yang bukan kader sendiri, PDIP tidak mendapat benefit politik, bahkan ada beberapa yang dinilai "berkhianat" terhadap partai,” kata Karyono di Jakarta, Rabu (5/6).

Terkait signifikan atau tidaknya strategi yang diterapkan PDIP, Karyono berpendapat, semua tergantung dinamika politik yang berkembang. Pasalnya, variabel electoral vote tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak kepala daerah yang dimiliki parpol.

“Kemenangan Partai Demokrat (PD) pada pemilu 2009, adalah salah satu yang bisa dijadikan ukuran. Kala itu, PD tidak banyak memiliki kader yang menjadi kepala daerah, tetapi PD menjadi partai pemenang,” ungkapnya.

Dia mengakui pengaruh kepala daerah tetap ada untuk menaikkan elektabilitas partai. Namun, hal tersebut bukan tanpa syarat. “Syaratnya adalah kepala daerah tersebut harus memiliki track record dan success story yang baik di mata publik. Syarat lainnya adalah kader yang menjadi kepala daerah tersebut harus loyal terhadap partainya,” tegasnya.

Suara Pembaruan

Penulis: C-6

Sumber:Suara Pembaruan