Chairul Tanjung di Pasar Garak, Seoul

Jakarta - Presiden SBY dinilai bisa dirugikan dengan pencaplokan PT TelkomVision, anak usaha PT Telkom Indonesia, oleh CT Corporation yang dimiliki oleh Chaerul Tanjung, Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN).

Menurut Ekonom Sustainable Development Indonesia (SDI), Dradjad H Wibowo, kedekatan Chaerul Tanjung (CT) dengan Presiden SBY bisa menimbulkan gosip politik yang merugikan Presiden.

"Misalkan, pencaplokan ini digosipkan untuk menggalang dana kampanye. Karena, terdapat potensi capital gain yang sangat besar jika TelkomVision di-IPO-kan pada akhir 2013 atau awal 2014 setelah dicaplok," kata Dradjad di Jakarta, Minggu (16/6).

Dia mengaku sudah melakukan konfirmasi ke beberapa pejabat negara terkait yang umumnya menjawab tidak ikut-ikutan atau tidak tahu menahu soal pencaplokan itu. Mereka juga tidak yakin jika Presiden SBY tahu dan atau merestui pencaplokan ini.

"Jika boleh menyarankan, karena CT adalah Ketua KEN, sebaiknya dia menahan diri tidak menyentuh BUMN sama sekali. Direksi BUMN tentu keder melihat kedekatannya dengan Presiden," jelas Dradjad yang juga Waketum PAN itu.

"Jika ingin masuk ke bisnis televisi berbayar, kita dukung bersama. Tapi tirulah VivaSky dan pemain lama seperti MNC, First Media dan Aora yang membangun sendiri, bukan mencaplok anak usaha BUMN yang sudah matang," ujarnya.

Dradjad juga mendesak Menneg BUMN, Dahlan Iskan untuk tak diam saja melihat bakal hilangnya aset BUMN karena pencaplokan CT Corp itu.

"Apa kita mau menyaksikan lagi banyak hilangnya aset negara lewat pencaplokan-pencaplokan aneh di BUMN?" Tandas Dradjad.

Diketahui bahwa CT Corporation mencaplok PT Telkomvision, anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Kedua perusahaan itu, pada pekan pertama Juni 2013 menandatangani Perjanjian Jual Beli Bersyarat (Conditional Sales and Purchase Agreement/CSPA). Yang diperjualbelikan adalah saham Telkom pada anak usahanya, yaitu 98.75 persen saham PT Indonesia Telemedia, operator televisi berbayar TelkomVision.

Dalam CSPA tersebut, CT Corp mengakuisisi 80 persen saham TelkomVision. Telkom tetap memiliki 20 persen. Nilai akuisisi ini diperkirakan di atas USD 100 juta. Setelah akuisisi, CT Corp nanti lebih banyak menyediakan konten, sementara infrastruktur menjadi tanggung jawab Telkom. Telkom menggunakan Morgan Stanley sebagai financial advisor.

Telkom adalah BUMN terbesar ketiga di Indonesia, yang berada pada nomor 685 dalam ranking perusahaan terbesar versi Forbes. Sementara itu CT Corp dimiliki oleh Chairul Tanjung, konglomerat nasional yang juga Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN). Chairul dikenal sangat dekat dengan Presiden SBY, bahkan lebih dekat dibandingkan sebagian besar menteri.

Penulis: Markus Junianto Sihaloho