Kendaraan antre  mengisi BBM jenis Premium di kawasan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (21/6) malam beberapa saat sebelum pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM. Pemerintah mengambil keputusan untuk menaikkan harga BBM bensin Premium menjadi Rp 6.500/liter dan solar menjadi Rp 5.500/liter pada 22 Juni 2013 pukul 00.00.
Kendaraan antre  mengisi BBM jenis Premium di kawasan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (21/6) malam beberapa saat sebelum pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM. Pemerintah mengambil keputusan untuk menaikkan harga BBM bensin Premium menjadi Rp 6.500/liter dan solar menjadi Rp 5.500/liter pada 22 Juni 2013 pukul 00.00.
Kendaraan antre  mengisi BBM jenis Premium di kawasan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (21/6) malam beberapa saat sebelum pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM. Pemerintah mengambil keputusan untuk menaikkan harga BBM bensin Premium menjadi Rp 6.500/liter dan solar menjadi Rp 5.500/liter pada 22 Juni 2013 pukul 00.00.

Medan - Keputusan pemerintah dalam menetapkan harga bahan bakar minyak (BBM) Rp 6.500 per liter dan solar Rp 5.500 per liter, membuat masyarakat daerah merasa sangat kecewa.

Keputusan pemerintah itu dianggap tidak melindungi, bahkan menyengsarakan masyarakat. Sebab, kenaikan BBM itu bakal disusul kenaikan harga kebutuhan.

"Kenaikan harga itu demi kepentingan penguasa. Pembantu Presiden hanya cari muka saja," ujar seorang ibu rumah tangga (IRT) di Medan, Sumatera Utara, Sutyas Ningsih (44), Sabtu (22/6).

Menurutnya, keputusan pemerintah dalam menaikkan harga BBM tersebut, sangat mempengaruhi perekonomian masyarakat, utamanya keluarganya. Pemerintah tidak memberikan keadilan.

"Ini semua dilakukan pemerintah untuk membahagiakan kepentingan penguasa. Pemerintah tidak peduli dengan masyarakat yang semakin menderita," katanya.

Hal senada juga disampaikan Suhartini (50), saat ditemui di kawasan Perumnas Mandala Medan, IRT ini mengungkapkan, kenaikan harga BBM itu untuk kepentingan pemilu 2014.

"Mereka menganggap masyarakat ini masih sangat mudah untuk dibodoh - bodohi. Padahal, masyarakat sudah muak melihat kebohongan penguasa dan pemerintah," ungkapnya.

Ibu beranak tiga ini menambahkan, masyarakat tidak akan terkecoh atas kepentingan penguasa saat pemilu mendatang. Masyarakat tidak simpatik lagi terhadap penguasa.

Suara Pembaruan

Penulis: 155/FER

Sumber:Suara Pembaruan