Graviti menentang Presiden Muhamad Mursi di Kairo, Mesir

"Para pemenang pemilu, berhati-hatilah," begitu kata Wakil Ketua MPR Hadjriyanto Thohari, membuat pesan atas kudeta Militer di Mesir terhadap rezim Morsi di sana.

Menurut Politisi Partai Golkar itu, di Jakarta, Kamis (4/7), krisis Mesir mengajarkan bahwa Pemilu demokratis, yang menaikkan Presiden Morsi ke singgasana kepresiden, bukan segala-galanya.

Menurutnya, Presiden Morsi terlalu mengandalkan hasil pemilu, bahwa dia dipilih melalui pemilu yang sah dan demokratis. Dan karena itu dia merasa hasil pemilu itu merupakan mandat penuh dari rakyat dan sekaligus memberikan legitimasi politik penuh pada dirinya.

"Dia lupa bahwa ada bagian dari rakyatnya yang tidak memilihnya meski lebih sedikit daripada yang memilihnya. Mereka inilah yang bergabung ke dalam barisan oposisi," kata Hadjriyanto.

Menurutnya, pihak oposisi di setiap Pemerintahan harus dikelola dengan diajak "sharing of power" atau berbagi kekuasaan. Presiden meski sah dan menang pemilu tidak bisa menjalankan kekuasaan secara otoritarianisme.

"Dia harus mendengar juga suara yang tidak mendukungnya. Dia harus share, berbagi kekuasaan," kata dia.

"Indonesia harus belajar dari kasus Mesir. Jangan mentang-mentang menang pemilu. Pemilu bukan segala-galanya. Demokrasi bukan hanya persoalan pemilu. Demokrasi jauh lebih kompleks dan rumit daripada sekadar pemilu."

Diketahui Militer Mesir telah menyingkirkan Muhammad Morsi dari kursi kepresidenan Rabu (3/7) malam waktu setempat atau Kamis dini hari WIB, dan menunjuk ketua Mahkamah Agung, Adli Mansour, sebagai pelaksana tugas kepala pemerintahan.

Penulis: Markus Junianto Sihaloho