Ilustrasi pemudik yang menggunakan sepeda motor memadati jalan raya.

Jakarta - Pulang ke kampung halaman dengan mengendarai sepeda motor sudah merupakan fenomena yang jamak jelang musim mudik. Moda transportasi termurah ini menjadi pilihan banyak orang karena tarif transportasi umum saat musim mudik membumbung sangat tinggi. Meski murah, namun ternyata mudik menggunakan motor tidak dianjurkan.

"Mudik pakai motor itu memang tidak dilarang, tapi juga tidak dianjurkan," kata Alvinsyah, pengamat transportasi dari Universitas Indonesia (UI), saat dihubungi BeritaSatu.com via telepon, Selasa (30/7).

Alvinsyah menjelaskan bahwa mudik dengan sepeda motor tidak aman untuk penggunanya. Salah satu penyebabnya adalah tingginya potensi kecelakaan yang bisa ditimbulkan.

"Misalkan saja ada 1.000 motor di jalan, itu artinya ada 1.000 isi kepala dan 1.000 perilaku di sana. Tentu potensi kecelakaan lebih tinggi jika dibandingkan dengan naik kendaraan umum. Lagipula para pengguna sepeda motor itu sering menaifkan keselamatan mereka sendiri. Banyak yang pulang ke kampung bawa tiga sampai empat orang, padahal aturannya motor kan cuma boleh dipakai dua orang. Belum lagi bawa barang yang banyak," jelasnya panjang lebar.

Ia juga menyoroti fenomena kenaikan jumlah pemudik sepeda motor tiap tahunnya. Dimana jika tahun ini semisal ada 1.000 motor di jalan, maka tahun depan bisa jadi ada sekira 1.200 motor karena saat kembali ke Jakarta mereka mengajak serta kerabat dari daerah asal.

"Saya lihat ini karena pertumbuhan ekonomi yang terpusat di Jabodetabek. Sehingga kalau cari rejeki orang berbondong-bondong datang ke Jakarta. Ini yang harus dipikirkan bagaimana caranya agar pertumbuhan ekonomi bisa tersebar juga di daerah," tambahnya.

Alvinsyah menjelaskan bahwa masalah transportasi tak cukup dilihat hanya dari perspektif fisik saja seperti kondisi kendaraan dan jalan, tapi juga pengaruh dari sisi ekonomi. Menurutnya, transportasi tumbuh karena ada aktivitas manusia. Dimana ada manusia berkumpul dan beraktivitas, di sanalah transportasi muncul. Jika pertumbuhan ekonomi bisa disebar maka jumlah sepeda motor juga akan tersebar.

"Misal jika bisa terwujud, maka nanti waktu musim mudik kendaraan yang melewati pantura bisa berkurang dari 1.000 menjadi 700, bukan malah nambah jadi 1.200."

Menanggapi fenomena makin bertambahnya jumlah pemudik bersepeda motor, Alvinsyah mengatakan pemerintah perlu turun tangan menangani masalah ini.

"Saya paham bahwa alasan mereka pakai motor karena murah. Kalau naik bis tarifnya naik tinggi banget itu juga saya paham. Itu karena sudah hukum dagang. Permintaan tinggi sementara penawaran tidak mencukupi, jadi ya tarifnya tinggi banget. Pesawat terbang pun sama. Kalau pas liburan engga ada yang pasang tarif murah. Pas peak season begini pasti dimanfaatkan pengusaha," tuturnya,

Alvinsyah  menambahkan pemerintah bisa membantu dengan mengadakan mudik gratis. Ini lebih baik daripada memberi batas tarif atas yang pengawasan sulit. Kebijakan ini bisa dilakukan dengan menyewa bus pariwisata selama seminggu di musim mudik. Jika harus memiliki sendiri bus tersebut, itu hanya akan terjadi pemborosan karena kemungkinan besar akan tidak terpakai selepas musim mudik.

"Tidak akan ada protes dari pengusaha otobus. Kan mereka juga sudah tidak kuat menampung jumlah pemudik. Ibaratnya kalau dikasih makanan itu mereka sudah mau muntah-muntah," katanya.

Ia juga mengatakan, masyarakat perlu diedukasi. Karena transportasi itu sebenarnya bukan mengatur kendaraan tapi mengatur orangnya.

"Orangnya juga perlu diatur agar bisa disiplin dan tertib kalau mau menyelesaikan masalah transportasi. Tentunya ini tidak bisa selesai dalam waktu singkat," tutupnya.

Penulis: Shesar Andriawan/AF