Korban penganiayaan yang dilakukan oleh adik kandung Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya yakni H Sumantri Jayabaya, masing-masing Asep Supriadi (kanan) dan Budi Basuki (tengah) didampingi penasihat hukum MM Ardy Mbalembout SH MH (kiri) ketika meminta perlindungan hukum di Mapolda Banten, Rabu (21/18).

Lebak - Sikap Polres Lebak dalam penanganan kasus penganiayaan yang diduga dilakukan oleh adik kandung Bupati Lebak H Mulyadi Jayabaya yakni bernama H Sumantri Jayabaya, yang terkesan lamban dan pelaku dibiarkan berkeliaran, disesalkan oleh pengacara atau penasihat hukum korban MM Ardy Mbalembout SH MH dari Law Firm Mbalembout & Partners.

"Terlihat jelas ada sikap kompromistis antara Polres Lebak dengan pelaku untuk menunda-nunda pemanggilan dan pemeriksaan. Lebih ironisnya, hingga saat ini pelaku belum ditetapkan sebagai tersangka. Apakah karena pelaku merupakan pengusaha dan adik kandung penguasa di Lebak, sehingga pihak kepolisian bersikap kompromistis. Ini merupakan contoh konkrit sikap tebang pilih dalam penegakan hukum. Karena itu, kami mendesak Polda Banten dan Mabes Polri ikut mengawasi penanganan kasus dugaan penganiayaan tersebut,” tegas Ardy.

Ardy mengungkapkan, kliennya dalam hal ini korban, masing-masing Budi Basuki, Asep Supriadi dan Erwin Sihaan, hingga saat ini mengalami trauma secara psikologis dan menderita ketakutan pasca penganiayaan yang dilakukan oleh pelaku H Sumantri Jayabaya dan rombongannya.

"Kasus ini sudah terjadi Minggu (18/8) lalu. Namun hingga saat ini pelaku belum ditetapkan sebagai tersangka. Bahkan, pelaku juga belum diperiksa oleh penyidik Polres Lebak. Ada apa di balik lambannya penanganan kasus ini oleh Polres Lebak. Jangan sampai masyarakat berpresepsi bahwa Polres Lebak bermain mata dengan pelaku,” ujarnya.

Ardy mengatakan, pihak sudah mendatangi Mapolres Lebak untuk menanyakan perkembangan penanganan kasus tersebut. Sebab, kliennya sudah diperiksa, Kamis (22/8) lalu. Namun, jawaban dari penyidik Polres Lebak bahwa pemanggilan terhadap pelaku atau calon tersangka baru akan dilakukan Senin (2/9).

"Kasus ini sudah berjalan 10 hari namun pelaku dibiarkan bebas berkeliaran. Saya tidak mengerti dengan cara berpikir penyidik Polres Lebak sehingga menunda pemeriksaan pelaku hingga Senin (2/9). Alasan yang kami terima dari Polres Lebak bahwa karena kekurangan personil. Personil kepolisian dikerahkan untuk pengamanan pilkada Lebak yang dilaksanakan Sabtu (31/8). Dan berdasarkan informasi yang kami peroleh bahwa pelaku merupakan ketua tim sukses dari salah satu pasangan calon. Dalam penegakan hukum, seharusnya tidak boleh ada diskriminasi. Kami mendesak Polres Lebak untuk segera memeriksa dan menahan pelaku,” tegas Ardy.

Secara terpisah, Kapolres Lebak AKBP Mulya Nugraha menjelaskan, terkait kasus penganiayaan tersebut pihaknya telah melakukan gelar perkara di Mapolres Lebak, Rabu (28/8) yang dihadiri oleh beberapa petinggi dari Ditreskrim Polda Banten.

"Kami sudah melakukan gelar perkara. Dalam gelar perkara tersebut diputuskan, pelaku atau calon tersangka akan diperiksa Senin (2/9) mendatang. Ini tidak ada kaitannya dengan peran pelaku sebagai ketua tim sukses salah satu pasangan calon. Namun, kami di internal Polres Lebak memang memiliki sejumlah jadwal termasuk tugas pengamanan pelaksanaan pilkada Lebak. Intinya, kasus ini akan ditangani sampai tuntas,” katanya.

Untuk diketahui, kejadian tersebut terjadi pada Minggu (18/8) WIB, sekitar pukul 16.30 WIB, ketika ketiga korban sedang berada di basecamp di perkebunan kelapa sawit di PTPN VIII Kebon Bojong Datar, di Kampung Emplasemen RT004/RW001, Desa Cikareo, Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak.

Sekitar pukul 16.00 WIB, pelaku H Sumantri Jayabaya menelepon korban Budi dan menanyakan keberadaannya. Karena tidak menaruh curiga, Budi Basuki menjawab dengan jujur bahwa dirinya sedang berada di PTPN VIII.

Setengah jam kemudian, rombongan kendaraan roda empat (mobil) dari Sumantri Jayabaya tiba di pintu gerbang PTPN VIII. Namun saat Budi Basuki bersama dengan dua orang temannya yaitu Asep Supriadi dan Erwin Sihaan menghampiri pelaku, tiba-tiba mereka dipukuli dan dianiaya dengan menggunakan tangan dan balok kayu.

"Yang melakukan pemukulan pada saat itu berjumlah sekitar 15 orang termasuk H Sumantri Jayabaya dan kejadinya berlangsung sekitar 10 menit lebih,” ujar Budi Basuki.

Menurut Budi, setelah melakukan penganiayaan, rombongan H Sumantri Jayabaya yang saat ini menjabat Ketua Kadin Lebak itu langsung pergi meninggalkan dirinya dan kedua temannya dalam kondisi badan penuh luka lebam.

”Sebelum meninggalkan kami para pelaku sempat mengancam agar tidak melaporkan kasus tersebut kepada polisi dan wartawan,” ujarnya.

Karena tidak terima dianiaya, para korban langsung melaporkan kejadian tersebut ke Mapolsek Cileles.

“Kami disarankan oleh pihak Polsek Cileles, untuk divisum di RSUD Adjidarmo, Rangkasbitung sebagai bukti kuat telah terjadi penganiayaan,” ujarnya.

Secara terpisah, salah sartu pelaku H Sumantri Jayabaya mengakui bahwa dirinya bersama anak buahnya memang sempat menampar ketiga korban.

“Kami hanya menampar. Tidak benar kalau kami memukul korban dengan menggunakan balok kayu. Bisa dibayangkan kalau kami memukul menggunakan balok kayu, korban pasti akan meninggal. Salah satu anak buah saya memang sempat mengancam pakai pisau. Pisau itu diambil dari pisau dapur di lokasi tempat para korban tinggal,” jelasnya.

Sumantri menegaskan dirinya siap kooperatif jika dipanggil oleh pihak kepolisian. Apa yang dilakukannya hanya untuk warning terhadap PTPN VIII yang telah menjanjikannya proyek.

“Kami sebenarnya kecewa dengan PTPN VIII yang nota bene adalah perusahaan BUMN. Proyek peremajaan kelapa sawit itu tidak ditender. Kami sudah mengajukan somasi ke PTPN VIII. Bahkan saya dijanjikan oleh PTPN akan mendapat proyek. Saya sudah membeli perlengkapan berupa alat berat. Namun, pada kenyataannya yang mendapat proyek adalah perusahaan lain,” tegasnya.

Menurut korban Budi, pekerjaan proyek peremajaan kelapa sawit milik PTPN VIII di Kebon Bojong Datar, Kampung Emplasemen RT004/RW001, Desa Cikareo, Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak telah melalui prosedur yang benar.

“Kami dari PT Lucksoil Indonesia selaku kontraktor sebagai pemenang tender dalam proyek peremajaan kelapa sawit milik PTPN VIII tersebut. Kendati demikian, Budi mengaku sebelum memulai pekerjaan di perkebunan PTPN VIII tersebut, pihaknya telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait di Lebak termasuk H Sumantri Jayabaya selaku Ketua Kadin Lebak dan Ketua Gapensi Lebak.

“Sebelum bulan puasa lalu, saya datang menemui H Sumantri Jayabaya untuk menyampaikan bahwa kami dari PT Lucksoil Indonesia akan memulai bekerja proyek peremajaan kepala sawit milik PTPN. Bahkan saya juga telah berkoordinasi dengan pihak camat, kepala desa, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda serta Kapolsek Cileles terkait pekerjaan proyek tersebut. Ini kami lakukan agar dalam proses pekerjaan tersebut tidak terjadi hambatan,” ujar Budi.

Budi menjelaskan kedua rekannya yang juga menjadi korban penganiayaan H Sumantri Jayabaya dan belasan anak buahnya, yakni Asep Supriadi dan Erwin Sihaan merupakan pekerja.

“Kami bukan karyawan PTPN VIII. Saya selaku pengawas pada perusahaan kontraktor PT Lucksoil Indonesia. Sementara korban Asep dan Erwin merupakan orang yang saya pekerjakan pada proyek peremajaan kelapa sawit milik PTPN VIII,” jelasnya.

Suara Pembaruan

Penulis: 149

Sumber:Suara Pembaruan