Ilustrasi warga Baduy.

Lebak - Bupati Lebak, Mulyadi Jayabaya, dituding melakukan penistaan terhadap komunitas warga Baduy, ketika menjadi juru kampanye (jurkam) untuk pasangan Iti Octavia Jayabaya (putri kandungnya sendiri) dengan Ade Sumardi, pada kampanye terakhir yang berlokasi di Pasir Ona, Rangkasbitung, Selasa (27/8) lalu. Pernyataan Jayabaya dengan menggunakan bahasa Sunda yang isinya merendahkan martabat masyarakat Baduy, disayangkan antara lain oleh para mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kabupaten Lebak.

"Kami memiliki bukti rekaman pernyataan Bupati Jayabaya, pada saat menjadi jurkam untuk pasangan nomor urut 3 Iti-Ade (Ide). Dalam pernyataannya, Jayabaya menyatakan: 'Lamun urang haying bodo, milih orang Baduy, lamun urang hayang bodo pilih budak Kanekes, budak Baduy mah eweuh nu sarakola barodo daek dipimpin ku jalema nu bodo?' (Kalau kita mau bodoh pilih orang Baduy, kalau bodoh pilih orang Kanekes, orang Baduy itu tidak ada yang sekolah pada bodoh, mau dipimpin orang bodoh?)," ungkap Ketua HMI Cabang Kabupaten Lebak, Abdul Rohman, di Lebak, Jumat (30/8).

"Pernyataan seorang bupati seperti itu sangat merendahkan martabat orang Baduy, yang merupakan bagian dari warga atau rakyat yang dipimpinnya," sambung Rohman.

Menurut Rohman pula, seharusnya seorang kepala daerah memberikan teladan yang baik dan menciptakan situasi demokrasi yang kondusif. Bukan sebaliknya, justru mendiskreditkan sekaligus menistakan salah seorang calon wakil bupati yang notabene adalah warga Baduy.

Untuk diketahui, Pilkada Lebak yang dilaksanakan Sabtu (31/8) ini, diikuti oleh tiga pasangan calon. Yang pertama adalah pasangan Pepep Faisaludin-Aang Rasidi (Panglima) dengan nomor urut 1, dari jalur independen. Lalu, ada pasangan nomor urut 2, Amir Hamzah-Kasmin (Hak) yang diusung oleh Partai Golkar. Amir merupakan Wakil Bupati Lebak aktif, yang dikabarkan sudah lama tak harmonis dengan Jayabaya. Sementara Kasmin yang merupakan anggota DPRD Banten, adalah juga Ketua DPD II Partai Golkar Lebak, sekaligus merupakan seorang warga Baduy.

Terakhir, ada pasangan nomor urut 3, yakni Iti Octavia Jayabaya-Ade Sumardi (Ide). Pasangan ini diusung oleh tujuh partai, yaitu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Gerindra, serta Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU). Iti sendiri merupakan anak kandung Bupati Lebak, anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat dan sekaligus merupakan Ketua DPC Partai Demokrat Lebak.

Lebih jauh, mewakili HMI Lebak, Rohman mendesak agar Bupati Mulyadi Jayabaya meminta maaf kepada masyarakat adat Baduy, baik secara lisan maupun tulisan, karena orasi politiknya dinilai telah menghina masyarakat Baduy. "Kalau Bupati Jayabaya tidak meminta maaf, kami bersama masyarakat adat Baduy akan melakukan aksi besar-besaran," tegasnya.

Sementara, Kepala Desa Kanekes, Jaro Dainah, selaku tokoh adat Baduy, mengatakan bahwa masyarakat Baduy merasa terhina dan direndahkan oleh Bupati Jayabaya. "Seharusnya seorang bupati tidak memanas-manasi suasana, sehingga tidak menjadi bersahabat. Seorang pemimpin sebenarnya mengayomi, bukan sebaliknya menyampaikan pernyataan seolah-olah tidak berpendidikan," ujarnya.

Jaro mengatakan, terkait hal itu, pihaknya sebenarnya hendak mendatangi kantor DPRD Lebak. Namun, massa yang hendak berangkat mencapai 400 orang, sehingga dirungkan.

"Kami terpaksa mengurungkan niat untuk mendatangi Kantor DPRD Lebak, karena khawatir terjadi gejolak amarah dari warga Baduy. Kami berencana untuk menggugat kasus ini secara hukum," tegasnya.

Bupati Jayabaya sendiri, ketika coba dihubungi melalui telepon selulernya, tidak bersedia menjawab pertanyaan terkait tudingan itu.

Sementara itu, terkait pelaksanaan pemungutan suara Pilkada Lebak yang diselenggarakan Sabtu (31/8) ini, Ketua KPU Lebak, Agus Sutisna menjelaskan, seluruh logistik dan kebutuhan pilkada sudah dalam keadaan siap. Dijelaskannya, dengan diikuti tiga pasangan calon, jumlah pemilih berdasarkan DPT di Kabupaten Lebak adalah sebanyak 894.394, dengan jumlah TPS sebanyak 1.987 yang tersebar di 28 kecamatan.

"Saya berharap semua warga Lebak yang mempunyai hak pilih, dapat menyalurkan hak suaranya. Kami targetkan 70 persen lebih tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilihan bupati dan wakil bupati kali ini," kata Agus.

"Warga yang tidak terdaftar pun masih bisa mencoblos. Syaratnya, datang ke TPS dan menunjukkan KTP. Ini berdasarkan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK)," katanya pula menambahkan.

Suara Pembaruan

Penulis: 149

Sumber:Suara Pembaruan