Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Suryadharma Ali (tengah), Wakil Ketua Umum Suharso Monoarfa (kiri) dan Sekjen Romahurmuziy (kanan), saat menyerahkan daftar bakal calon legislatif sementara kepada petugas Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Gedung KPU, Jakarta.

Jakarta - Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dideklarasikan tahun 1973. PPP adalah gabungan dari empat partai yakni Partai Nahdlatul Ulama (NU), Partai Serikat Islam Indonesia (PSII), Perti dan Parmusi.

Idealnya, perjalanan panjang PPP bisa membuat partai itu lebih terkonsolidasi dengan baik dibandingkan partai-partai baru yang lahir pasca orde baru. Sayang, PPP justru nampak tak berdaya di hadapan partai-partai baru.
Hal itu disampaikan peneliti dari Formappi Lusius Karus. Ia mengomentari keberadaan atau eksistensi PPP saat ini, terutama sejak era Reformasi tahun 1998 lalu.

Lusius menjelaskan ada beberapa alasan mengapa PPP tidak berkembang. Pertama, karena ideologi Islam yang diusung oleh PPP juga menjadi ideologi Partai lain. Dari sisi ideologi ini, PPP tidak bisa menampilkan wajah Islam yang khas jika dibandingkan dengan partai lain seperti PKS, PKB, PBB, dan lain-lain.

Kedua, semenjak pergantian kepemimpinan, PPP selalu bermain aman. Partai ini selalu dekat dengan kekuasaan bahkan berkoalisi dengan kekuasaan tak peduli jika partai berkuasa mempunyai ideologi yang berbeda. Orientasi kekuasaan ini menjadikan visi agamis yang menjadi visi PPP menjadi tak punya makna.

Ketiga, kader-kader besutan PPP sejauh ini belum ada yang mampu menyedot perhatian publik dengan gagasan luar biasa. Hal ini membuat PPP nyaris sama dengan partai-partai baru yang berjuang keras agar dapat dipilih setiap menjelang Pemilu.

Keempat, sama dengan partai lainnya, PPP juga tidak menjadikan program pengkaderan sebagai misi utama untuk mempersiapkan regenerasi politik. Kelalaian melakukan pendidikan politik terhadap kader membuat PPP seperti partai yang kurang berakar pada akar rumput.

"Munculnya banyak parpol di masa era reformasi menuntut kematangan PPP untuk bersaing dengan parpol-parpol lain. Tetapi tantangan PPP sampai hari ini adalah bagaimana meredefinisikan partai tersebut di tengah serbuan partai baru," tuturnya.

Suara Pembaruan

Penulis: R-14

Sumber:Suara Pembaruan