Dirjen Tanaman Pangan Udhoro Kasih Anggoro (kiri)

Jakarta - Direktur Jenderal (Dirjen) Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kemtan) Udhoro Kasih Anggoro kembali tidak memenuhi panggilan pemeriksaan sebagai saksi di Kejaksaan Agung (Kejagung). Udhoro minta pemeriksaan dirinya dijadwal ulang dengan alasan ada jadwal rapat dengan menteri pertanian.

"Saksi meminta untuk dapat diperiksa pada Senin 30 September 2013," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Setia Untung Arimuladi, di Jakarta, Kamis (26/9).

Udhoro diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi proyek pengadaan benih oleh PT Sang Hyang Seri (SHS) di Kemtan. Sedangkan dua saksi lain dari Ditjen Tanaman Pangan yakni, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) tahun 2008-2009 Rahman Pinem, dan PPK tahun 2010 Widjatmoko, memenuhi panggilan.

"Terhadap dua saksi lainnya dari Ditjen Tanaman Pangan Kemtan dilakukan pemeriksaan mengenai tugas para saksi sebagai PPK yang membuat kontrak public service obligation atau kewajiban melayani publik dengan PT SHS," ujarnya.

Udhoro Kasih telah berkali-kali diperiksa sebagai saksi. Tidak hanya diperiksa dalam kasus benih, Udhoro juga diperiksa dalam kasus lain yakni, kasus dugaan korupsi Pengadaan Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) oleh PT Hidayah Nur Wahana (HNW) dengan nilai proyek Rp 209 miliar di Kemtan.

Dalam kasus BLBU Udhoro pernah diagendakan diperiksa pada Rabu (4/9) namun, dirinya tidak memenuhi panggilan karena lebih memilih mengikuti rapat kerja di DPR.

Dalam kasus benih, Kejagung telah menetapkan tujuh tersangka yang seluruhnya dari unsur SHS kendati proyek tersebut dilaksanakan di Kemtan. Lima di antara tujuh tersangka yakni, Direktur Keuangan dan SDM PT SHS tahun 2008-2011 Rachmat, dan mantan Direktur Produksi PT SHS tahun 2008-2011, Yohanes Maryadi Padyaatmaja, mantan Direktur Litbang PT SHS tahun 2008-2011 Nizwan Syafaat, Dirut PT SHS Kaharuddin, dan mantan Dirut PT SHS Eddy Budiono telah ditahan.

Sementara dua tersangka lainnya yaitu, Karyawan PT SHS Subagyo, dan Manajer Kantor Cabang PT SHS Tegal Hartono belum ditahan. Kejagung juga belum merilis berapa dugaan jumlah kerugian negara yang ditimbulkan dari proyek tersebut.

Penulis: E-11