Ahok dan Nur Pamudji Kalahkan 44 Kandidat BHACA

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) (kiri), Ketua Pengurus Harian BHACA Natalia Soebagjo (tegah) dan Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Listrik Negara (PLN) Nur Pamudji (kanan). Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Nur Pamudji menerima penghargaan BHACA 2013. (BeritaSatu.com/Lenny Tristia Tambun)

Oleh: Lenny Tristia Tambun | Kamis, 31 Oktober 2013 | 20:11 WIB

Jakarta - Perkumpulan Bung Hatta Anti Corruption Award (BHACA) menetapkan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Listrik Negara (PLN) Nur Pamudji sebagai peraih penghargaan BHACA 2013.

Seremoni pemberian penghargaan BHACA 2013 digelar di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Kamis (31/10).

Ketua Pengurus Harian BHACA Natalia Soebagjo menerangkan pemilihan sosok pejabat yang layak mendapatkan BHACA sangatlah sulit. Karena itu, penganugeahan BHACA tidak dapat dilakukan setiap tahunnya.

Terbukti dari pemberian BHACA terakhir dilakukan pada tahun 2010 dengan penerimanya adalah Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sewaktu menjabat sebagai Walikota Surakarta (Solo) dan Walikota Yogyakarta Herry Zudianto.

"Seharusnya tahun lalu kami melakukan malam penganugrahan BHACA. Namun sayang nominasi yang masuk ke panitia tidak menampilkan sosok individu yang layak mendapatkan penghargaan ini. Lalu kami upayakan tahun ini dan didapatkanlah dua sosok yang dinilai mampu memberikan inspirasi gerakan anti korupsi di Indonesia," kata Natalia dalam Acara Penganugerahan BHACA 2013.

Dewan Juri BHACA 2013 telah mendapatkan 44 nominasi yang menjadi kandidat BHACA. Setelah dilakukan penelitian dan pengecekan rekam jejak nominator, muncul dua sosok ini yang layak dijadikan role model.

Dewan Juri BHACA 2013 Betti Alisjahbana menerangkan pihaknya melakukan penelitian dan pengecekan dari 44 nominator. Hasilnya muncullah tujuh kandidat yang dinyatakan layak untuk menerima penghargaan ini. Lalu, panitia meneliti dan melengkapi data ketujuh kandidat ini, akhirnya memutuskan penghargaan BHACA 2013 jatuh kepada Ahok dan Nur Pamudji.

"Kriteria yang kami nilai adalah individu yang bersih dari korupsi, tidak menyalahgunakan jabatan untuk menerima suap, menyatakan tidak pada suap, membuat langkah sistematis untuk menciptakan lingkungannya bersih dari korupsi," terang Betti.

Anggota Dewan Juri BHACA 2013 Mas Achmad Santosa mengatakan kedua tokoh publik menjadi inspirasi bagi warga dan layak mendapatkan award ini. Dia menilai Nur Pamudji dapat membangun suasana zero tollerance of corruption dalam tubuh PT PLN. "Padahal dulu tidak ada suasana seperti itu. Nur Pamudji mengeluarkan prakarsa yang konkrit untuk pemberantasan korupsi," ujarnya.

Sedangkan Ahok, Achmad menilai dalam perjalanan panjang karir politiknya, mantan Bupati Belitung Timur ini tetap konsisten melawan korupsi dan penyalagunaan wewenang jabatan.

Dewan Juri lainnya Luky Djani menegaskan penilaian yang diberikan teringgi untuk keduanya tidak hanya berdasarkan individunya saja, tetapi juga dampak yang telah diberikan keduanya dilingkungan tempat mereka bekerja.

"Ahok dan Nur telah mampu memberikan dampak merubah lingkungannya, yaitu Pemprov DKI dan PLN. Mereka telah meberikan kontribusi dalam perubahan lingkungan kerjanya menjadi bersih dari korupsi," paparnya.

Sedangkan menurut anggota dewan juri Agung Pambudhi mengatakan proses penilaian untuk Ahok dan Nur, membutuhkan waktu yang cukup panjang, hampir satu tahun lebih. Mulai dari pengumpulan data track record hingga laporan harta kekayaan keduanya turut diselidiki.

"Selain itu, penerima award ini mendapatkan amanat. Mereka dititipkan tidak hanya sekedar menerimaa penghargaan, melainkan mengawal keduanya untuk terus berkiprah melanjutkan apa yang telah dibangunnya. Untuk selalu diingatkan pernah menerima award untuk memberantas korupsi. Dan dapat menjadi inspirasi bagi generasi mendatang," tuturnya.


ARTIKEL TERKAIT