Puan Maharani: "Trisakti" Bung Karno Tetap Relevan i

Ketua DPP PDI Perjuangan bidang politik Puan Maharani saat membacakan hasil rekomendasi Rakernas III PDI Perjuangan di Ecopark, Ancol, Jakarta Utara, Minggu (8/9). SP/Joanito De Saojoao

Oleh: PD / HA | Selasa, 10 Desember 2013 | 20:53 WIB

Jakarta - Gagasan "trisakti" yang dikemukakan Bung Karno masih tetap relevan dengan situasi Indonesia saat ini dan masa akan datang. Faktanya, Indonesia saat ini tidak lagi berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan.

"Mengapa setelah 68 tahun Indonesia Merdeka, kedaulatan di bidang politik, semangat berdiri di atas kaki sendiri, dan kepribadian kita sebagai bangsa yang bermartabat, kini justru kian memudar?" tanya politisi PDIP Puan Maharani pada Kongres Kebangsaan yang digelar Forum Pemimpin Redaksi di Jakarta, Selasa (10/12). Kongres Kebangsaan ini bertema "Menggagas Kembali Haluan Bangsa Menuju 100 Tahun Indonesia Merdeka" berlangsung hingga Rabu (11/12).

Ketika Indonesia diproklamasikan, kata Puan, yang ada adalah semangat. Hal ini nampak dari pernyataan yang disampaikan Bung Karno sebelum membacakan Teks Proklamasi 17 Agustus 1945.

"Bung Karno dengan tegas mengatakan 'Kini tiba saatnya bagi kita untuk berani meletakkan nasib bangsa di atas tangan kita sendiri. Hanya bangsa besarlah yang berani meletakkan nasibnya di atas tangannya sendiri'. Ini suatu pernyataan politik yang melambangkan keberanian untuk merdeka dengan seluruh risiko gempuran kekuatan Sekutu dan Asia Pasifik," ungkap putri Megawati Soekarnoputri itu.

PDIP, kata Puan, meyakini bahwa sekiranya spirit kemerdekaan bisa dikobarkan kembali dan sekiranya demokrasi politik dan demokrasi ekonomi yang dibangun mampu memerdekakan rakyat miskin, maka gambaran "Indonesia Hebat" terhampar di depan mata. Konstitusi telah mengamanatkan bahwa tujuan bernegara adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Suatu tujuan yang begitu hebat, dan diletakkan di atas dasar fondasi ideologi bangsa, Pancasila. Pancasila yang menyatu dengan seluruh kebudayaan Indonesia.

"Itulah tema utama yang diyakini oleh PDI Perjuangan bahwa bangsa ini bisa bangkit kembali melalui Pancasila yang dibumikan melalui jalan "trisakti", sehingga kita bisa menjadi Indonesia yang hebat," kata Puan.

PDIP dipercaya rakyat untuk memenangkan pemilu legislatif tahun 2014 dan kemudian mampu memimpin penyelenggaraan pemerintahan ke depan, demikian Puan, maka agenda utama yang ditawarkan adalah meletakkan dasar bagi Indonesia yang berdaulat di bidang politik, berdiri di atas kaki sendiri di bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Pemerintah Indonesia, kata Puan, harus merdeka untuk menentukan seluruh kebijakan pemerintahan negara tanpa intervensi oleh kepentingan global sekalipun. Lebih-lebih di dalam menjaga keutuhan wilayah Indonesia. Demikian halnya terhadap kedaulatan ekonomi.

Indonesia yang berdaulat hanya terwujud melalui upaya meningkatkan efektivitas pemerintahan, ketaatan pada hukum dan nation and character building untuk membangun karakter bangsa Indonesia agar bisa berkompetisi di dunia internasional.

Berdikari

Puan menekankan pentingnya "berdiri di atas kaki sendiri" di bidang ekonomi. Spirit ini harus diletakkan sekurang—kurangnya untuk mewujudkan kedaulatan Indonesia di bidang pangan, energi, pertahanan, keuangan, dan maritim. Kemampuan produksi rakyat harus terus ditingkatkan. Rakyat harus berproduksi, penelitian harus digalakkan, terutama di sektor strategis.

Reformasi pajak menjadi keharusan agar watak keadilan sosial di dalam perekonomian nasional semakin dapat diwujudkan. Transportasi publik yang aman, masal, dan harga terjangkau, menjadi skala prioritas. Sistem jaminan sosial, termasuk jaminan untuk mendapatkan pekerjaan, harus menjadi motif utama di dalam menyusun kebijakan perekonomian nasional.

Indonesia yang berkepribadian dalam kebudayaan sangat penting. Agenda ini, kata Puan, hanya bisa dilaksanakan jika Indonesia menempatkan rakyat sebagai sumber kebudayaan.

Kebudayaan yang dibangun adalah kebudayaan yang berakar pada tradisi budaya, pada kearifan lokal, dan kemudian ditransformasikan pada bangunan keadaban Indonesia modern yang ditandai oleh sistem kebudayaan yang mendorong setiap warga negara Indonesia untuk kreatif, berdisiplin, jujur, toleran, sekaligus memiliki etos kerja yang tinggi.

"Ke depan, nation and character building akan menjadi penopang penting di dalam menggelorakan kembali kebanggaan sebagai bangsa," ungkap Puan. Karena itu ketika PDIP memimpin maka kementerian pendidikan akan berkonsentrasi pada pendidikan dasar, menengah hingga pendidikan tingkat atas. Sedangkan pendidikan tinggi akan disatukan dengan penelitian, pengembangan teknologi, dan aplikasinya untuk sektor strategis agar rakyat menjadi panentu dalam gerak perekonomian Indonesia.

Pelaksanaan agenda ini, ujar Puan, memerlukan kepemimpinan nasional yang mampu menghadapi berbagai bentuk krisis, dan tantangan yang tidak ringan. Kepemimpinan yang ditopang oleh pemahaman ideologi yang kuat, teguh pada prinsip, tidak mudah terombang-ambingkan oleh kepentingan asing, dan memiliki kemampuan manajerial yang andal, serta memiliki karakter yang jujur, sederhana, dan etos kerja yang tinggi, akan menjadi gambaran nyata, kepemimpinan yang kita perlukan di masa transisional ini.

"Inilah yang akan dijawab oleh PDI Perjuangan. Ada kesatupaduan antara kepemimpinan nasional, yang menjalankan agenda trisakti, dan soliditas kekuatan partai yang menyatu dengan rakyat. Jika ini terjadi, Indonesia akan hebat," papar Puan.

Lunturnya Spirit

Indonesia saat ini sangatlah berbeda dengan Indonesia tahun 1960-an. Pada periode itu, Indonesia telah mampu menjadi inspirasi bagi kemerdekaan bangsa-bangsa Asia Afrika. Angkatan Perang Indonesia merupakan angkatan perang terkuat di Asia Tenggara.

Kepemimpinan Indonesia di dunia internasional, kata Puan, bahkan sangat jelas watak perikemanusiaannya, dengan menjadi pelopor Gerakan Non Blok, dan The New Emerging Forces (NEFOS). Di dalam negeri, Indonesia memiliki konsepsi perekonomian yang luar biasa melalui Pembangunan Semesta dan Berencana.

Semangat kepeloporan Indonesia itu, kini digerus oleh melunturnya spirit kebangsaan. Intoleransi kembali terjadi. Wibawa negara merosot dan berbagai persoalan ekonomi yang sangat pelik kini menghadang.

"Namun yang lebih membahayakan adalah lunturnya kebanggaan kita sebagai bangsa yang disebut oleh Ibu Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, mentalitet dan karakter bangsa kita saat ini, akibat melekatnya “gen penjajahan”. Suatu genetika bangsa yang rusak akibat akumulasi penjajahan yang begitu lama, dan merusak rasa percaya diri kita sebagai bangsa," ungkap Puan.

Akibat dari semua ini, disiplin nasional merosot. Kebanggaan sebagai bangsa meluntur dengan berbagai bentuk ketergantungan Indonesia terhadap produk impor. Spirit berdikari berubah menjadi spirit berkonsumsi. Rupiah pun terus tertekan hingga menembus Rp 12.000 per dolar AS karena besarnya ketergantungan terhadap impor.

Pengangguran dan kemiskinan, yang seharusnya bisa ditekan dalam spirit pembangunan yang berkeadilan sosial, kini justru menjadi wajah buram perekonomian Indonesia. Ketidaktaatan terhadap hukum semakin melemahkan sendi-sendi bernegara. Padahal Indonesia dibangun sebagai negara hukum. Kokohnya Indonesia yang disatukan oleh prinsip kebangsaan dengan nilai kebhinekaan, kini semakin dinodai oleh intoleransi, konflik sosial akibat SARA yang seharusnya tidak terjadi lagi.


Sumber:
ARTIKEL TERKAIT