Ilustrasi kabel listrik PLN.

Jakarta - Dua karyawan PLN, Rodi Cahyawan, dan Muhammad Ali, merasa dikorbankan dalam kasus dugaan korupsi pengerjaan Life Time Extention (LTE) Gas Turbine (GT) 2.1 dan 2.2 di Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Blok 2 Belawan, Sumatera Utara. Keduanya ditahan oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) seusai diperiksa sebagai tersangka.

"Iya (merasa dikorbankan)" kata Rodi, di Jakarta, Rabu (18/12).

Kejagung kembali melakukan penahanan terhadap para tersangka kasus tersebut. Sebelum keduanya ditahan, Kejagung melakukan penahanan terhadap Chris Leo Manggala dan Supra Dekanto. Tinggal satu tersangka yang belum ditahan yaitu, Manager Sektor Labuan Surya Dharma Sinaga.

Keempat tersangka dari unsur PLN hanya Supra Dekanto dari unsur swasta selaku pelaksana tender selaku mantan Direktur Utama PT Nusantara Turbin dan Propolasi.

Sewaktu hendak ditahan, Selasa (17/12) Supra Dekanto merasa pelaksanaan tender dari proyek yang diduga merugikan keuangan negara mencapai Rp 25 miliar itu berjalan normal, tidak ada penyimpangan.

Beredar kabar kalau pihak PLN tidak layak dimintai pertanggungjawabannya dalam kasus ini. Pasalnya, PLN hanya pengguna (user). Jika barang yang diadakan tidak sesuai spesifikasi maka yang layak dimintai pertanggungjawaban pidana adalah pemasok barang yaitu, PT Siemens.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Setia Untung Arimuladi mengatakan, penahanan terhadap Rodi dan Muhammad Ali dilakukan selama 20 hari ke depan di Rutan Salemba cabang Kejaksaan Agung (Kejagung) dari tanggal 18 Desember 2013 hingga 6 Januari 2014.

"Penahanan tersebut didasarkan pada pertimbangan alasan subjektif dan objektif. Sedangkan untuk tersangka Surya Dharma Sinaga belum diketahui kapan dipanggil," jelasnya.

Penulis: E-11

Sumber: Suara Pembaruan