Imigran Gelap dari Timur Tengah, berada di Kupang NTT

Jakarta - Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana minta agar pemerintah tidak bersikap lemah terhadap Australia, khususnya dalam menyikapi tindakan Australia yang kerap menghalau para pencari suaka ke Negeri Kangguru masuk ke wilayah Indonesia.

“Pemerintah harus tegas dalam menghadapi kebijakan Australia dalam menangani para pencari suaka. Tindakan tegas ini dibutuhkan agar kedaulatan RI tidak dilecehkan oleh Australia dan Indonesia tidak menjadi tempat bagi masalah Australia,” kata Hikmahanto, di Jakarta, Selasa (7/1).

Pada Senin (6/1), sebanyak 45 imigran gelap asal Timur Tengah yang akan memasuki perairan Australia dihalau Angkatan Laut (AL) Australia sehingga mereka berputar arah dan memasuki wilayah Indonesia tepatnya, di Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurut Hikmahanto, sikap Australia tersebut tidak bertanggungjawab dan cenderung cuci tangan dalam urusan penyelesaian pencari suaka. Padahal sebagai negara tetangga, Australia seharusnya menjaga hubungan baik dengan Indonesia.

Tindakan tentara Australia, ujarnya, juga tidak salah karena mereka menjalankan implementasi kebijakan yang dikeluarkan Perdana Menteri Tony Abbot untuk menghalau para pencari suaka.

Namun demikian, pemerintah layak melayangkan protes keras terhadap tentara pemerintahan Australia, karena dinilai melimpahkan persoalan ke Indonesia. Protes dari Indonesia sah-sah saja, karena para pencari suaka tersebut ingin tinggal di Australia bukan di Indonesia.

“Oleh karenanya pemerintah Indonesia perlu memprotes keras tindakan AL Australia tersebut. Pemerintah Indonesia harus meminta agar pemerintah Australia turut bertanggung jawab dan tidak sekedar cuci tangan atas permasalahan pencari suaka,” katanya.

Dikatakan, Indonesia mengalami kerugian karena harus menanggung para pencari suaka selama di wilayah Indonesia. Sikap Australia tersebut dianggap telah melecehkan kedaulatan bangsa.

“Indonesia pun sangat dirugikan, mengingat Indonesia harus menanggung para pencari suaka selama mereka ada di Indonesia. Kerugian yang diderita pun tidak saja secara finansial, tetapi juga secara sosial dan reputasi internasional,” katanya.

Hikmahanto berpandangan jika tindakan AL Australia tersebut terus dilakukan, AL Indonesia serta Basarnas juga dapat memperlengkapi para pencari suaka untuk kembali memasuki wilayah Australia.

“Bila tindakan AL Australia terus berlanjut, maka AL Indonesia dan Basarnas memperlengkapi para pencari suaka dengan berbagai peralatan agar mereka bisa sampai di Australia dengan selamat,” ujarnya.

Suara Pembaruan

Penulis: E-11/FAB

Sumber:Suara Pembaruan