Poster kegiatan "Run to Remember" dalam rangka rencana deklarasi Barisan pengingat.

Jakarta - Sebuah langkah gerakan bersama yang coba mengambil peran dalam upaya menuntut penyelesaian kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan melawan ketidakadilan yang terus terjadi di masyarakat, kini siap dideklarasikan. Barisan Pengingat, nama gerakan yang kali ini menjadikan Wiji Thukul sebagai ikon, itu disebut merupakan sebuah gerakan kebudayaan dari generasi muda yang lahir dari kegelisahan akan masalah-masalah tersebut.

Sebagaimana disampaikan melalui rilisnya, hari ini, melalui cara-cara yang khas anak muda dengan menggunakan pendekatan budaya, Barisan Pengingat disebut ingin mengubah kegelisahan menjadi sebuah kesadaran bersama, tentang pentingnya penghargaan pada HAM, nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

"Digagas oleh novelis Okky Madasari, Barisan Pengingat merupakan gerakan budaya yang tidak terkait dengan kepentingan politik apa pun dan bebas dari kepentingan bisnis. Barisan Pengingat dirancang sebagai gerakan yang cair, tempat bertemunya aneka pemikiran dan kreativitas, dengan satu tujuan untuk memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan," jelas pihak Barisan Pengingat dalam rilisnya, Selasa (28/1).

"Barisan Pengingat bukanlah sebuah organisasi atau lembaga. Sesuai namanya, ia adalah barisan yang hanya akan ada apabila terdapat orang-orang di dalamnya. Barisan Pengingat ingin menempatkan generasi muda sebagai subyek dari perjuangan. Generasi muda diajak untuk mengingat, sekaligus menjadi pengingat," lanjut keterangan tersebut.

Disebutkan pula bahwa pada tahun ini, Barisan Pengingat memilih penyair Wiji Thukul sebagai ikon gerakan. Pemilihan ini pun disebut didasarkan setidaknya pada dua hal.

"Pertama, Wiji Thukul adalah penyair Indonesia yang sajak-sajaknya penuh dengan semangat perlawanan dan kritik sosial. Kedua, Wiji Thukul adalah korban penculikan tahun 1998 yang hingga kini masih belum ditemukan," papar mereka.

Wujud dari aktivitas terkait Wiji Thukul sendiri, disebut antara lain akan dilakukan dengan menyebar puisi dan sosok Wiji Thukul kepada masyarakat luas. Baik itu melalui media sosial, media massa, maupun berbagai bentuk kegiatan lainnya, termasuk dengan membangun "Dinding Berpuisi" di sudut-sudut kota Jakarta. Selain itu, Barisan Pengingat juga dinyatakan mendukung penulisan skenario film Wiji Thukul, serta penerbitan buku kumpulan puisi lengkap sang ikon.

Sebagai catatan pula, Barisan Pengingat akan dideklarasikan secara terbuka pada 2 Februari 2014, melalui kegiatan "Run to Remember", sebuah kegiatan lari yang bertujuan untuk mengingat korban pelanggaran HAM dan ketidakadilan di Indonesia. Sebelum lari dimulai, secara terbuka akan dibacakan Piagam Deklarasi Barisan Pengingat oleh generasi muda dari beragam profesi, diwakili oleh Dinda Kanya Dewi (aktris), Timothy Marbun (jurnalis/anchor), serta Tiga Setiagara (musisi/model).

Berikut rancangan Deklarasi Barisan Pengingat:

1. Kami generasi yang peduli, akan terus bersuara atas apa yang terjadi dalam masyarakat kami, baik di masa lalu maupun di masa kini.
2. Kami generasi yang berani, akan selalu melawan segala ketidakadilan yang terjadi di sekitar kami.
3. Kami generasi yang toleran, akan menghargai segala perbedaan dan melawan mereka yang memaksakan penyeragaman.
4. Kami generasi yang anti-kekerasan, menolak kekerasan dalam bentuk apapun.
5. Kami generasi yang jujur, menolak segala bentuk korupsi.
6. Kami generasi yang berkarya, akan bekerja melalui cara-cara kami untuk selalu mengingat dan menjadi pengingat atas semangat yang terkandung dalam deklarasi ini.

Penulis:

Sumber:PR