Dirut Indoguna Sebut Diri Sebagai Korban

Dirut Indoguna Sebut Diri Sebagai Korban
Terdakwa kasus dugaan suap impor daging di Kementan yang merupakan Dirut PT Indoguna Utama, Maria Elizabeth Liman. ( Foto: Antara/Wahyu Putro A )
Novy Lumanauw / MUT Selasa, 29 April 2014 | 18:26 WIB

Jakarta - Direktur Utama (Dirut) PT Indoguna Utama, Maria Elizabeth Liman dalam pledoi (nota pembelaan) pribadinya menyebut dirinya hanyalah korban dari makelar seperti Elda Devianne Adiningrat dan Ahmad Fathanah.

"Elda dan Fatahanah yang komunikasi di antara sesama mereka. Sedangkan saya, tanpa setahu saya mereka jadikan saya objek kejahatan mereka," kata Maria saat membacakan pledoi pribadinya dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (29/4).

Maria menjelaskan bahwa dirinya tidak bermaksud menyuap eks Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq sebesar Rp 1,3 miliar demi mendapatkan tambahan kuota impor daging sapi tahun 2013 di Kementerian Pertanian (Kemtan).

Sebaliknya, Maria menyebut uang sebesar Rp 1 miliar yang diberikan ke Fathanah merupakan sumbangan kemanusiaan untuk Papua dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Sedangkan, uang Rp 300 juta adalah ongkos untuk Elda.

"Perhatian saya adalah menyelesaikan masalah kelangkaan daging dan marak beredar daging celeng dan tikus. Pemberian (Rp 1 miliar) tidak ada kaitan dengan penambahan kuota impor. Tetapi, sumbangan kemanusiaan di Papua dan NTB karena saya sudah tahu tidak ada penambahan kuota daging impor," kata Maria.

Bahkan, Maria menegaskan bahwa pertemuannya di Medan dengan Menteri Pertanian (Mentan) Suswono tidak ada kaitannya dengan permohonan penambahan kuota impor daging sapi. Lebih lanjut, dalam pledoinya, Maria cenderung menyalahkan mantan Direktur Operasional PT Indoguna Utama, Juard Effendi. Sebab, yang menangani masalah penambahan kuota adalah adik iparnya tersebut.

"Saya hanya merespon orang yang mengaku bernama Elda Devianne Adiningrat yang akan menjual kuota impor daging sapi 100-200 ton. Tetapi, semua pengurusannya saya serahkan ke Juard Effendi. Tetapi, saya tidak meminta Elda untuk dipertemukan dengan siapapun juga," ujar Maria.

Seperti diketahui, Direktur Utama (Dirut) PT Indoguna Utama, Maria Elizabeth Liman dituntut dengan pidana Empat tahun dan enam bulan penjara. Serta, pidana denda Rp 200 juta subsider empat bulan kurungan. Ia dinyatakan terbukti bersama dengan Arya Abdi Effendy dan Juard Effendi dalam kurun waktu Oktober 2012 sampai Januari 2013, menyuap Luthfi hasan Ishaaq selaku Anggota Komisi I DPR periode 2009-2014 sekaligus Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebesar Rp 1,3 miliar.

Dengan tujuan, agar Luthfi menggunakan jabatannya untuk mempengaruhi pejabat Kementerian Pertanian (Kemtan) memberi persetujuan permohonan penambahan kuota impor daging sapi tahun 2013 yang diajukan Indoguna.

"Menyatakan terdakwa Maria Elizabeth Liman terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama sebagaimana Pasal 5 ayat 1 huruf a UU Tipikor jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP dalam dakwaan pertama," kata jaksa Irene Putrie saat membacakan tuntutan dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (22/4).

Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE