Soal Penyerangan di Yogyakarta, Kapolri: Rumah Jangan Jadi Tempat Ibadah

Soal Penyerangan di Yogyakarta, Kapolri: Rumah Jangan Jadi Tempat Ibadah
Kapolri Jendral Sutarman ( Foto: Istimewa )
Farouk Arnaz Senin, 2 Juni 2014 | 18:54 WIB

Jakarta - Kapolri Jenderal Sutarman angkat suara terkait dua kasus bernuansa SARA yang terjadi di Yogyakarta pada Kamis (29/5) dan Minggu (31/5).

Yakni kasus pembubararan dan penganiayaan jemaat Katolik yang terjadi di Kompleks Perumahan STIE YKPN, Ngaglik, Sleman dan kasus perusakan bangunan di Dusun Pangukan, Desa Tridadi, Kecamatan Sleman yang dipakai umat Kristen untuk menjalankan kebaktian.

"Pelakunya tentu harus ditangkap. Satu kejadian (di YKPN) satu pelakunya sudah ditangkap. Untuk mencegah kejadian serupa saya menghimbau agar rumah tidak digunakan sebagai tempat ibadah. Pengawasannya sulit," kata Sutarman pada Beritasatu.com Senin (2/6).

Kalau rumah tidak boleh dibuat ibadah bagaimana dengan mayoritas di masyarakat muslim yang menggelar pengajian dirumah-rumah?

Sutarman menjawab,"Yang saya maksud rumah tidak boleh dijadikan tempat ibadah itu adalah jika rumah berfungsi sebagai tempat ibadah rutin. Seperti misalnya salat jumat rutin, kebaktian rutin, itu yang tidak boleh."

Seperti diberitakan, Yogyakarta dengan semboyannya "Yogya Berhati Nyaman" itu dirudung aksi kekerasan beruntun.

Yang terjadi pada Minggu (1/6) siang adalah saat puluhan orang merusak sebuah bangunan di Dusun Pangukan yang dipakai sejumlah umat Kristen untuk menjalankan kebaktian.

Bangunan yang dirusak itu milik seorang pendeta. Kejadian itu bermula saat pendeta dan sejumlah jemaahnya menjalankan ibadah di bangunan itu namun setengah jam kemudian belasan warga datang untuk memprotes kegiatan itu.

Warga protes karena mengklaim bangunan itu tidak mendapat izin sebagai gereja dan sejak tahun 2012 bangunan itu telah disegel oleh Pemerintah Kabupaten Sleman.

Tapi protes massa ini berujung kekerasan saat massa yang mengenakan kain penutup wajah itu melempari bangunan tersebut. Mereka juga memukuli bangunan itu dengan palu.

Anehnya puluhan polisi dan tentara yang berjaga tak berbuat banyak dan hanya berupaya mengimbau massa untuk menghentikan perusakan.

"Saya memerintahkan kasus itu juga ditindak penyerangnya," tegas Sutarman.

Sebelumnya massa menerobos rumah Direktur Penerbitan Galang Press Julius Felicianus di YKPN saat para jemaat Katolik sedang menggelar Doa Rosario dalam rangka bulan suci Maria yang jatuh pada bulan Mei.

Julius yang saat itu sedang di kantor bergegas pulang namun setiba di rumah dia malah dianiyaya. Selain itu jemaat lain yang sedang berdoa juga dianiyaya.

Michael Ariawan, wartawan Kompas TV yang datang meliput juga tak luput dipukul oleh penyerang dan handycam miliknya dirampas.

CLOSE