Essi Ronaldi, istri almarhum Irzen Octa
Mereka bahkan menginap di teras rumah Irzen dan baru pergi sekitar pukul 7 pagi.

Enam orang penagih utang dari Citibank pernah mendatangi rumah Irzen Octa, dan memaksa segera melunasi utangnya.

"Suaranya keras. Bayar..bayar," kata Essi Ronaldi, istri Irzen, dalam kesaksiannya dalam sidang kasus dugaan penganiayaan Irzen Octa, dengan terdakwa Humizar Silalahi, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), hari ini.

Essi mengatakan keenam penagih hutang itu datang ke rumahnya sekitar pukul 11 malam pada Oktober 2010.

Mereka bahkan menginap di teras rumah Irzen dan baru pergi sekitar pukul 7 pagi.

"Salah satunya Humizar Silalahi. Saya lihat wajahnya waktu saya keluar rumah. Mereka enggak pulang kalau belum dibayar (utangnya)," kata Essi.

Essi mengaku tahu nama lengkap Humizar karena Irzen menyebut namanya.

Humizar bersama seorang rekannya kembali datang ke rumah Irzen pada 28 Maret 2011.

Menurut  Essi, kedatangan Humizar untuk meminta Irzen datang ke kantor Citibank di Menara Jamsostek lantai 5.

"Suami bilang bayar 10 persen, hutang lunas. Dia seneng banget. Antusias," kata Essi mengenang percakapan pada 29 Maret 2011.

Usai mendengarkan kesaksian Essi, Humizar membantah sebagian kesaksiannya.

Dia mengaku tidak pernah membentak Irzen ketika datang ke rumahnya.

"Kami ngobrol. Bukan hanya soal tagihan tapi juga curhat soal keluarga," kata terdakwa kepada majelis hakim.

Lebih lanjut, Humizar mengaku bingung bagaimana Essi bisa tahu nama lengkapnya.

"Saya tidak pernah berikan nama lengkap ke almarhum," kata terdakwa.

Ditemui usai persidangan, kuasa hukum lima terdakwa kasus Irzen menegaskan kliennya tidak pernah membohongi Irzen terkait pembayaran 10 persen hutang.

"Tidak membohongi. Bukan iming-iming karena itu mungkin terjadi. Tapi syaratnya banyak untuk dapat pelunasan dengan bayar 10 persen," kata Lutfhie Hakim.

Lutfhie mengatakan Humizar memang tidak memiliki kapasitas untuk menyatakan mengenai pembayaran hutang 10 persen.

Menurutnya hal itu disampaikan Humizar agar Irzen mau datang ke kantor Citibank.

"Apakah aplikable atau tidak harus dirundingkan dengan pimpinan. Itu tidak mungkin ditangani Humizar," kata Lutfhie.

Irzen, bekas Sekjen Partai Pemersatu Bangsa, yang ditemukan tewas di Kantor Citibank 29 Maret silam karena diduga dianiaya para penagih utang (debt collector).

Para debt collector yang kini duduk di kursi terdakwa yakni Arief Lukman, Hendry Waslinton, Donald Harris Bakar, Boy Yanto Tambunan, dan Humizar Silalahi.

Mereka dijerat dengan pasal 333 KUHP tentang perampasan kemerdekaan seseorang, pasal 351 ayat 3 tentang penganiayaan yang mengakibatkan kematian, dan pasal 335 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan.

Penulis: