Profil Calon Menteri

Enggartiasto Lukita, Pengusaha Properti yang Inginkan Perubahan

Enggartiasto Lukita, Pengusaha Properti yang Inginkan Perubahan
Aditya L Djono / AB Jumat, 5 September 2014 | 07:00 WIB

Nama Enggartiasto Lukita tercatat sebagai salah satu politisi kawakan yang telah meramaikan panggung politik Indonesia selama lebih dari dua dekade. Lulus dari IKIP Bandung, dia memilih terjun di dunia properti untuk mengawali karier profesional. Jabatan vital yang telah didudukinya antara lain, komisaris utama PT Unicora Agung, direktur utama PT Kartika Karisma Indah, direktur utama PT Kemang Pratama, direktur utama PT Bangun Tjipta Pratama, dan Direktur PT Supradinakarya Multijaya (1994-2004).

Enggar, demikian dia akrab disapa, mengawali kiprah politik bersama partai berlambang pohon beringin, yakni Partai Golkar. Dia berada di Golkar sejak 1979. Suami dari Peggy Lukita ini juga dikenal banyak berkecimpung dalam dunia organisasi. Lukita tercacat pernah menjabat sebagai ketua departemen Real Estat Indonesia (REI) periode 1986-1989 dan jabatan ketua umum REI untuk periode 1992-1995.

Pada saat bersamaan, sepak terjangnya di dunia politik terus bersinar dengan terpilih sebagai wakil bendahara umum DPP Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) pada 1990-1995, wakil ketua BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jakarta periode 1988-1993, anggota Dewan Kehormatan BPP Hipmi pada 1990-1995, dan wakil ketua FIABCI untuk masa kepemimpinan 1992-1995.

Kinerja Engartiasto sebagai politisi mencapai puncak ketika terpilih sebagai anggota DPR mewakili Partai Golkar dari Provinsi Jawa Barat untuk periode 1997-1999 dan berlanjut untuk periode 2004-2009.

Selepas itu, dia memutuskan untuk bergabung dengan parpol baru, Partai Nasdem sejak Januari 2013, meninggalkan nama besarnya bersama Golkar yang telah menggembleng kepiawaiannya dalam berpolitik. Alasan Lukita bergabung dengan Partai Nasdem karena yakin mampu melakukan perubahan positif bagi kondisi Tanah Air.

Enggar mengaku, dirinya memilih bergabung dengan Nasdem karena dua alasan. Pertama, karena restorasi perubahan yang ditawarkan partai itu. Kedua, karena sosok Surya Paloh yang sudah dianggap sebagai guru.

“Saya masuk ke Partai Nasdem bukan karena ingin menjadi caleg. Tentu, saat pertama saya masuk ke sini untuk melakukan perubahan bersama Partai Nasdem,” ujarnya pertengahan Januari lalu.

Enggar mengaku telah berpamitan kepada kolega-koleganya di Partai Golkar.

Aturan Properti
Selain menjadi pengusaha properti, Enggar juga dikenal kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah di bidang perumahan. Dia pernah menyoroti belum jelasnya deregulasi yang terkait dengan aturan mengenai kepemilikan properti oleh asing di Indonesia. Menurut dia, kebijakan itu sangat bergantung pada kemauan pemerintah dan DPR untuk mengamendemen UU Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Pokok Agraria (UU PA).

Ketika itu, medio 2005, Enggar mengatakan, kendala utama adalah tidak ada kemauan pemerintah. “Sebenarnya hanya persoalan kemauan politik dari pemerintah. Kami sudah terus mendorong ini. Tapi, keputusannya tetap saja kita menunggu dari pemerintah,” ujarnya saat itu.

Enggar juga getol menyuarakan revisi Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 1996 tentang Kepemilikan Properti oleh Asing. Enggar yang ketika itu masih duduk sebagai anggota Komisi V DPR mengatakan, PP itu belum cukup memadai untuk membatasi kepemilikian properti oleh asing. Oleh karena itu, dia mendorong agar dilakukan revisi terhadap peraturan tersebut.

“Selain orang asing, bagaimana dengan badan hukum asing? Itu juga harus diatur,” tuturnya.

Peraturan itu, ujarnya, juga belum mengakomodasi kepentingan investor maupun pengembang serta belum memberi kepastian hukum bagi pemilik asing.

Menurutnya, PP itu tidak mencukupi untuk mengatur sektor ini, meskipun langkah untuk merevisi PP 41 menunjukkan ada kemauan dari pemerintah. “Setidaknya, ini bisa menjadi langkah untuk membuka pasar,” ujarnya.

Meski sempat menghilang dalam dunia usaha, sepak terjang Enggar di persoalan properti Tanah Air cukup mumpuni. Ditambah dengan kedekatan dia dengan Partai Nasdem dan Surya Paloh, yang sukses mengantar Jokowi-JK ke Istana Presiden, bisa jadi Enggar masuk dalam jajaran kabinet mendatang. 

Enggartiasto Lukita
Lahir: Cirebon, 12 Oktober 1951

Pendidikan:
SD Cirebon (1963)
SMP Cirebon (1963-1969)
SMA Cirebon (1966-1969)
S1 IKIP Bandung (1969-1977)

Pengalaman Kerja:
Komisaris Utama PT Unicora Agung
Dirut PT Kartika Karisma Indah
Dirut PT Kemang Pratama
Dirut PT Bangun Tjipta Pratama
Anggota DPR/MPR RI (1997-1999)
Direktur PT Supradinakarya Multijaya (1994-2004)

Organisasi:
Ketua Departemen REI (1986-1989)
Wakil Bendahara Umum DPP AMPI (1990-1995)
Wakil Ketua BPD Hipmi Jakarta (1988-1993)
Anggota Dewan Kehormatan BPP Hipmi (1990-1995)
Ketua Umum REI (1992-1995)
Wakil Ketua FIABCI (1992-1995)
Anggota Dewan Penasihat Golkar (1992-1997)
Anggota Dewan Penasihat Ukrida (1994-1998)
Anggota Dewan Riset Nasional (1994-1999)
Anggota Yayasan PPM (1995)
Ketua Majelis Pertimbangan Organisasi REI (1995-1998)
Ketua Bidang Khusus Percasi (1996-1998)
Ketua Kehormatan REI (1996)
Ketua PPK Kosgoro (1995-2000)
Wakil Bendahara Umum DPP Golkar (1998-2004)
Ketua IKA UPI (2000-2004)
Bappilu Pusat Partai Golkar (2003)
Anggota Partai Nasdem (2013)

Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE