Mengenang Sutan Muhammad Amin, Tokoh Pergerakan Pemuda yang Terlupakan

Mengenang Sutan Muhammad Amin, Tokoh Pergerakan Pemuda yang Terlupakan
Salah satu arsip galeri Mr. Sutan Muhammad Amin ( Foto: sutanmuhammadamin.com )
Yus Rabu, 24 September 2014 | 15:32 WIB

Jakarta – Sutan Muhammad Amin merupakan salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah pergerakan pemuda. Namun, peran pemuda kelahiran Aceh Besar pada 22 Februari 1904 ini tidak banyak dikenal oleh rakyat Indonesia.

Padahal, SM Amin merupakan seorang pejuang nasional yang selalu menggerakkan dan mengobarkan spirit sumpah pemuda. Lantaran perannya penting dalam sejarah pergerakan kepemudaan Indonesia, SM Amin layak diusulkan untuk menjadi pahlawan nasional.

Fakta sejarah tentang SM Amin dan harapan untuk menjadi Pahlawan Nasional merupakan intisari dari seminar yang bertemakan “Sosok dan Perjuangan Tokoh Sumpah Pemuda Mr. Sutan Muhammad Amin: Pemikiran dan Pengabdian untun Negeri” di Auditorium Museum Sumpah Pemuda di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta Pusat, Rabu (24/9).

Dalam acara ini hadir sejumlah pembicara, di antaranya Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, Dr. Phil Ichwan Azhari, M.S, Sejarahwan Dr. Rusdi Husein, Keluarga Tokoh Sumpah Pemuda, Ananda B. Kusuma, dan Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Kasijanto, S.S. Hum.

Hadir juga nak bungsu SM Amin, Ahmad Riawan Amin. Selain itu, hadir juga perwakilan dari Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Agus Nugroho.

Ichwan Azhari mengungkapkan, fakta bahwa SM Amin merupakan salah pemuda yang terlibat aktif dalam organisasi Jong Sumateranen Bond (JSB). JSB ini adalah organisasi di mana cendikiawan dan penggagas nasionalisme Indonesia asal pulau Sumatera. Ichwan memang mengakui bahwa banyak pemuda asal Sumatera yang terlibat dala JSB yang tidak dikenal selain Mr. Muhammad Jamin.

“S.M Amin merupakan tokoh penting yang tidak banyak dikenal. Namun, S.M Amin merupakan tokoh pemuda daerah yang bergerak dan berpikir nasional. Dia tidak hanya bergabung pada JSB, tetapi juga berpartisipasi pada organisasi kepemudaan seperti Jong Islamienten Bond dan Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia. Keaktifan dalam dunia pergerakan ditunjukan dengan cara aktif menulis pada Surat Kabar Jong Sumatera dan Indonesia Raya serta menjadi pengurus dalam JSB,”jelas Ichwan.

Ichwan juga mengungkapkan bahwa S.M Amin tokoh yang cukup penting dalam mengkonsepkan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Dalam pertemuan-pertemuan pra-kongres Pemuda II, S.M Amin ikut berperan sebagai perwakilan dari JSB bersama anggota yang lain.

“S.M Amin merupakan salah satu pendukung dari naskah pengikraran sumpah para pemuda dalam Kongres Indonesia II. Beliau juga ikut menandatangani naskah keperluan Kongres Indonesia II,” jelasnya.

Ananda Kusuma dan Rusdi Husein menginformasikan fakta sejarah lain tentang S.M Amin. Keduanya menuturkan bahwa Amin juga dikenal sebagai pengacara yang bertanggung jawab, jujur, berani membela kebenaran, arif, dan bijaksana.

Kesan ini tertanam dalam hari dan benak rakyat di mana Amin bekerja sebagai pengacara, yakni di Kutaraja Aceh (sekarang Banda Aceh). Selain itu, keduanya melihat sosok Amin sebagai tokoh pejuang yang benar-benar penggerak persatuan dan nasionalisme.

“Hanya 200 pejuang nasional di seluruh Indonesia yang benar-benar membangun semangat persatuan dan nasionalisme dalam sejarah Indonesia. S.M Amin termasuk salah satu di antaranya. Kita patut berterima kasih untuk mereka,” tandas Ananda Kusuma.

Sementara itu, Kasijanto Sastodinomo menilai sosok Amin sebagai sosok yang iklan mengabdi dan berkorban. Selain menjadi tokoh pergerakan, Kasijanto mengungkapkan pengabdian Amin ditunjukan ketika menjadi Gubernur Sumatera Utara yang pertama dan DPRD Sumut Pertama.

“Berkat jasa-jasanya sebagai pengabdi rakyat, S.M Amin mendapat berbagai penghargaan dari negara, di antaranya Bintang Mahaputra Selaku Sumatera Utara dan mantan Gubernur Riau dari Presiden B.J Habibie (1998), Bintang Jasa Utama selaku mantan Gubernur Sumut, dan Riau dari Presiden Soeharto (1991), Bintang Legiun Veteran RI selaku mantan Gubernur Sumut (1991), dan Tanda Kehormatan Satya Lantjana Peringatan Perdjoeangan Kemerdekaan (1961),” beber Kasijanto.

Menanggapi seminar dan dorongan agar S.M Amin menjadi pahlawan Nasional, pihak keluarga S.M Amin yang diwakili Riawan Amin menyatakan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung S.M menjadi pahlawan nasional. Riawan mengakui bahwa ayahnya adalah sosok yang selalu berbicara dan bertindak dengan spirit sumpah pemuda.

Sutan Muhammad Amin adalah pria kelahiran Aceh pada 22 Februari 1904. Pendidikan SD di sekolah Belanda, ELS dari tahun 1912 sampai 1918. Kemudian Amin melanjutkan sekolah kedokteran Stovia di Batavia pada tahun 1919. Amin tidak menyelesaikan sekolah di Stovia, pindah ke sekolah Mulo di Batavia.

Setelah tamat dari Mulo, Amin melanjutkan sekolah ke AMS Yogyakarta. Kemudian mengambil sekolah hukum di Rechshoogeschool di Batavia. Pada tahun 1933, Amin memperoleh gelar Meester in de Rechten (Mr) dengan bidang keahlian pengacara.

Pada masa remajanya, Amin aktif dalam organisasi Jong Sumateranen Bond (JSB). Ketika kuliah, terlibat aktif mendorong kongres Pemuda Indonesia II yang menjadi cikal bakal Sumpah Pemuda. Selain aktif di dunia pergerakan, Amin juga pernah menjadi mengabdi melayani masyarakat dengan menjadi gubernur di beberapa daerah di Sumatera dan DPRD. Amin wafat pada 16 April 1993.

Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE