Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi

Retno Lestari Priansari Marsudi, Menlu Wanita Pertama di Indonesia

Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi (AFP Photo / Adek Berry)

Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) akhirnya membacakan 34 nama menteri yang disebutnya sebagai Kabinet Kerja periode 2014-2019.

Dari 34 nama yang diumumkan tersebut, ada yang menarik, yaitu dipilihnya Retno Lestari Priansari Marsudi sebagai Menteri Luar Negeri (Menlu).

"Beliau (Retno Marsudi) ini dari karier. Beliau ini tegas, visioner. Beliau Menlu perempuan pertama dalam sejarah kita," kata Jokowi saat membacakan profil singkat Retno, Minggu (26/10) sore.

Bukan tanpa alasan perempuan kelahiran Semarang, 27 November 1962 terpilih. Retno diketahui pernah menduduki berbagai jabatan penting di Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dan handal dalam hal bernegosiasi.

Ibu dari Dyota Marsudi dan Bagas Marsudi ini, mengawali kariernya dengan bergabung sebagai staf pada Biro Analisa dan Evaluasi untuk kerjasama ASEAN pada tahun 1986.

Kemudian, wanita yang meraih S-1 Jurusan Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1986 ini juga pernah bertugas sebagai pejabat Counselor Ekonomi di KBRI Den Haag antara tahun 1997 hingga 2001.

Selanjutnya, menjadi Direktur Eropa Barat (2003-2005) dan Direktur Kerjasama Intra Kawasan Amerika-Eropa (2001-2003). Serta, pernah ditunjuk sebagai Duta Besar (Dubes) RI di Norwegia dan Islandia pada tahun 2005 sampai 2008.

Kemudian, menjabat sebagai Direktur Jenderal Amerika dan Eropa di Kemlu sejak April 2008 sampai dengan Januari 2012, yang mengelola hubungan Indonesia dengan 87 negara di Eropa dan Amerika. Hingga akhirnya ditunjuk sebagai Dubes RI untuk Belanda pada tahun 2012.

Prestasi wanita yang meraih gelar master di Haagsche Hooge School Jurusan Hukum Uni Eropa, dibidang diplomatik juga tidak perlu diragukan.

Ia pernah memimpin negosiasi multilateral dan konsultasi bilateral antara Indonesia dengan negara-negara mitra, termasuk Uni Eropa, ASEM (Asia-Europe Meeting) dan FEALAC (Forum for East Asia-Latin America Cooperation).

Selain itu, Retno juga pernah dianugerahi Bintang Jasa "Grand Officer" yang merupakan penghargaan tertinggi kedua oleh Raja Norwegia.

Wanita yang memiliki hobi naik gunung ini ternyata tokoh sentral di balik berhasilnya negosiasi antara Indonesia dengan pemerintah Belanda dalam menangani kasus pembunuhan aktivis Hak Asasi Manusia, Munir pada 2004. Sebab, ia tergabung dalam Tim Pencari Fakta (TPF) ketika itu.

Retno juga terlibat dalam perundingan yang akhirnya menghasilkan keputusan diizinkannya maskapai penerbangan Indonesia terbang ke Uni Eropa dan Amerika beberapa waktu lalu.

Suara Pembaruan

Novy Lumanauw

Suara Pembaruan