Kesejahteraan Petugas "Air Traffic Control" Naik Signifikan, Layanan Diharapkan Lebih Baik

Kesejahteraan Petugas
/ FAB Sabtu, 22 November 2014 | 07:03 WIB

Jakarta - Kesejahteraan petugas air traffic control (ATC), sejak kelahiran Perum Penyelenggaraan Navigasi Penerbangan Indonesia (PPNPI) atau yang biasa disebut Airnav meningkat signifikan. Dengan peningkatan ini, para petugas diharapkan bekerja lebih profesional sehingga memberikan layanan yang baik.

"Dulu memang gaji ATC itu kecil, sehingga ada kesenjangan antara ATC dan pilot. Padahal keduanya sama pentingnya dalam keselamatan penerbangan dan sama-sama profesi yang memiliki lisensi. Saat ini, gaji ATC sudah meningkat signifikan dan dampaknya pada layanan navigasi sangat baik," ujar Direktur Personalia dan Umum Airnav, Saryono, Jakarta, Jumat (21/11).

Disampaikan Saryono, sebelum Airnav berdiri, gaji petugas ATC sangat rendah, apalagi dibandingkan dengan negara-negara lain. Gaji ATC yang baru lulus dan bekerja di BUMN pengelola bandara tak sampai Rp 4 juta per bulan. Untuk yang bertugas di Bandara UPT, yang dikelola Kementerian Perhubungan, gaji lebih rendah lagi, karena disesuaikan dengan golongan pegawai negeri sipil (PNS). Bahkan untuk petugas ATC yang sudah bekerja 10 tahun, gajinya rata-rata masih Rp 10 juta per bulan. Padahal pilot yang masa kerjanya sama, gajinya bisa empat sampai lima kali lipat.

Namun saat ini, gaji untuk fresh graduate sudah sekitar Rp 8 juta per bulan. Sedangkan untuk senior, sudah mencapai Rp 33 juta per bulan. "Tingkat stres ATC itu besar, karena mereka mengelola lalu lintas penerbangan. Kalau pendapatan mereka kecil, semakin stres karena ada keluarga. Dengan kondisi saat ini, kita berharap mereka sepulang kerja bisa istirahat maksimal, santai bersama keluarga, sehingga saat bertugas benar-benar optimal," jelasnya.

Peningkatan tersebut, lanjut Saryono, terdiri dari beberapa tahapan. Saat pertama Airnav berdiri, petugas ATC langsung dinaikkan gajinya sebesar 10 persen dari gaji sebelumnya dan perhitungan lisensi dan rating naik 100 persen. "Jadi lisensi dan rating mereka benar-benar dihargai, sehingga semua berupaya untuk bekerja profesional meningkatkan rating mereka," tuturnya.

Dukungan Kementerian BUMN juga meningkatkan kesejahteraan petugas ATC dengan memperhitungkan masa kerja mereka. "Gaji memang tidak sama antara petugas satu dengan yang lain, tapi ini justru membuat suasana di tower lebih kondusif. Sebab yang lama bertugas merasa diapresiasi, yang baru juga senang dengan besaran yang dia terima dan punya harapan untuk bisa seperti seniornya, karena masa kerjanya dihitung," paparnya.

Saryono menyampaikan, dengan pola tersebut, tidak semua bersaing untuk masuk ke jajaran manajerial. "Kalau dia memang suka di operasi dan tidak mau di balik meja, dia cukup di tower, bekerja yang baik, penghasilannya tetap meningkat. Bahkan bisa jadi mereka pendapatannya lebih tinggi dari yang di belakang meja," jelasnya.

Namun Saryono menyatakan, dengan peningkatan kesejahteraan, profesionalisme dan layanan harus meningkat. Setiap petugas ATC kini rutin dievaluasi kinerjanya sesuai dengan KPI (Key Performance Index) yang harus dicapai. Penilaian kinerja ini dilakukan mulai dari tugas utama, mengatur lalu lintas pesawat sampai hal-hal sederhana. "Yang sederhana misalnya, datang tidak boleh terlambat, kalau terlambat uang makan dipotong," katanya.

Sedangkan terkait, tugas utama, penilaian akan dilakukan rutin. Jika penilaian baik, maka petugas tersebut akan dipindahkan ke bandara yang lebih padat. Namun jika kinerjanya buruk, maka akan dipindahkan ke bandara yang lebih sepi. "Dalam penggajian kan juga ada jenis bandaranya, sehingga ATC harus bekerja maksimal dan profesional, kalau mereka tidak mau turun. Hasil akhir yang diharapkan apa? Layanan navigasi lebih baik," ujarnya.

Sejauh ini, hal tersebut berbuah positif. Pada masa peak Lebaran lalu, pengaturan navigasi di bandara Soekarno-Hatta, yang merupakan bandara terpadat di Indonesia, sangat baik. Bahkan, sejumlah maskapai baik asing maupun domestik menyampaikan apresiasi terhadap hal itu.

Kesejahteraan ATC memang menjadi perhatian pemerintah, sebab berkaitan dengan pengaturan navigasi penerbangan. Hal ini ditegaskan Menteri BUMN sebelumnya, Dahlan Iskan, saat pendirian Airmav. Persoalan ini juga kembali diungkapkan Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan saat berkunjung ke tower bandara Soekarno-Hatta beberapa waktu lalu. Menurut Jonan, ATC merupakan pegawai utama yang menentukan kelangsungan Airnav, karenanya, kesejahteraan mereka harus menjadi perhatian. 

Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE